Skip to main content

Tantangan yang Dihadapi Gereja Mewujudkan Multikulturalisme di Masyarakat

Multikulturalisme adalah sesuatu yang mencakup beberapa hal seperti ide, perspektif, kebijakan, sikap dan tindakan, oleh beberapa orang di negara yang rakyatnya memiliki berbagai jenis seperti etnis, budaya, agama, kelas gaya hidup, dan banyak lainnya.  Dalam sejarah Kekristenan, hal yang paling penting adalah untuk mendekat kepada Tuhan dan menjalankan mandatnya sesuai dengan hukum kasih di dalam Alkitab. Ide Multiculism adalah ide yang hadir dan dibuat untuk mengatur keragaman dengan prinsip dasar pengakuan keragaman itu sendiri.

Dengan adanya kulturalisme, masyarakat akan diundang untuk lebih menjunjung toleransi, adanya perdamaian dan rekonsiliasi, tidak hanya konflik atau kekerasan dalam aliran perubahan sosial tertentu. Dalam Perjanjian Baru Galatia 3:28 ada tertulis bahwa semua manusia yang berasal dari berbagai suku, bangsa, dan kelas sosial bersatu dalam Kristus. 


Ini bererti kasih Kristus diberikan kepada semua orang tanpa menghiraukan asal-usul mereka. Kolose 3:11 juga menjelaskan bahawa Kristus adalah semua dan dalam segala sesuatu. Dalam artikel ini akan menjelaskan tentang bagaimana tantangan gereja dalam mewujudkan multikulturalisme dalam Yesus Kristus. Berikut adalah fakta dari gereja di Indonesia yang mewujudkan multikulturalisme meskipun masih banyak yang belum dihadapi.

  1. Gereja di Indonesia memiliki anggota yang terdiri dari berbagai etnis, budaya, bahasa, daerah dan asal kebangsaan.
  2. Gereja di Indonesia termasuk beberapa unsur budaya lokal yang dimasukkan ke dalam liturgis. Sebagai salah satu contoh dapat mencakup elemen dari lagu, musik atau berbagai kebiasaan dan prinsip kehidupan lokal disesuaikan untuk memperkaya pemahaman iman Kristen. Contoh dari kenyataan adalah bahwa ada persaudaraan yang harmonis dalam budaya masyarakat suku yang dapat dikembangkan untuk membangun kebersamaan dalam jemaat yang akan ditulis dalam kitab Kisah Para Rasul.
  3. Ada beberapa layanan gereja yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat pada umumnya terlepas dari perbedaan seperti asal, budaya, adat istiadat, kelas sosial, atau agama. Hal ini menyebabkan tingkat kesadaran gereja dalam partisipasi masyarakat cukup terlihat dan signifikan.
  4. Sekarang banyak gereja yang melakukan studi tentang budaya untuk mengeksplorasi kembali elemen budaya yang akan terancam menghilang dari masyarakat. Sebagai contoh yang telah dilakukan di wilayah NTT, ada lembaga yang bekerjasama dengan gereja untuk melakukan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah yang ada di setiap sudut NTT.
  5. Gereja di Indonesia telah membangun dialog dan kerjasama dengan orang lain dari Bergama, di bidang kemanusiaan dan keadilan. Kerjasama ini melahirkan tim advokasi hukum, keberadaan layanan kesehatan yang akan memberikan pelayanan kepada semua orang tanpa memandang perbedaan, budaya dan latar belakang agama, dan ada kewarganegaraan atau kelas sosial.
  6.  Ini mengajarkan kita untuk menerima dan menghargai semua orang tanpa kecuali dan akan membantu orang lain dan akan menunjukkan bagaimana solidaritas tanpa kehadiran perbedaan di latar belakang. Dapat menghilangkan prasangka buruk terhadap kehadiran suku, bangsa, budaya, dan kelas sosial.  Ini harus tentang keberadaan unsur kebersamaan, solidaritas, kerjasama dan koeksistensi dalam cara yang damai dalam perbedaan untuk mencerminkan karakter Kristen sejati.


Demikian penjelasan tentang tantangan Jemaat dalam mewujudkan Multikulturime dalam masyarakat. Ini mengajarkan tentang manfaat berdoa bagi orang Kristen untuk membuat tujuan orang Kristen yang hidup. Yesus selalu mengajari kita untuk selalu mengasihi. Mari kita menyadari bagaimana solidaritas dan cinta untuk orang lain tanpa kita mubah Mauri latar belakang. Solidaritas dan cinta tidak akan menghilangkan perbedaan, tetapi bahkan mubah menerima perbedaan sebagai hadiah dalam perbedaan. Itu adalah ketika orang buffala kesempatan untuk mewujudkan cinta dan solidaritas bagi orang lain.
Mungkin Anda Suka
Buka Komentar
Tutup Komentar