Skip to main content

Pengertian Pantun Karmina Dan Contoh Pantun Karmina

Pengertian Pantun Karmina Dan Contoh Pantun Karmina. Pantun memiliki banyak jenis. Karmina adalah salah satu jenis pantun dalam bahasa Indonesia dan merupakan salah satu jenis sastra klasik yang sudah ada sejak abad ke-16. Pantun karmina juga disebut sajak pendek karena hanya memiliki dua baris sajak a - a. Baris pertama adalah sampiran dan baris kedua adalah isi sajak. Pantun juga memiliki ciri-ciri pantun seperti pantun karmina, baris pertama memiliki karakteristik menggunakan kalimat figuratif dengan perumpamaan objek atau perilaku lain yang kemudian diklarifikasi oleh baris kedua yang isinya. Baris kedua memiliki karakteristik memperjelas makna pantun dengan bahasa yang langsung dan mudah dipahami.

Pantun karmina sering digunakan sebagai kalimat kiasan untuk menegur seseorang dengan lebih sopan, tetapi banyak orang tidak mengerti bahwa perumpamaan yang digunakan adalah sejenis sajak karmina. Pantun karmina juga disebut perumpamaan tidak langsung yang memberi kesan lebih sopan untuk menegur seseorang.





Contoh Pantun Karmina

Di bawah ini beberapa contoh pantun karmina :


(41) Naik sampan ke sebatik
Sudah tampan orangnya simpatik

(42) Ujung bendul dalam semak
Kerbau mandul, banyak lemak

(43) Gula merah lagi diparut
Nafsu amarah jangan diturut

(44) Sirsak sirsak nangka belanda
Pikiran rusak digoda janda

(45) Candi mendut rusak jalannya
Orang gendut banyak makannya

(46) Dahulu parang sekarang besi
Dahulu sayang sekarang benci

(47) Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu masih bertanya pula

(48) Ikan sembilang di balik batu
Sudah kubilang jangan mengganggu

(49) Dahulu sedan sekarang mercy
Dahulu teman sekarang istri

(50) Lain dulang lain kakinya
Lain orang lain hatinya

(51) Ke bilik ke dapur gulai pedas
Itik bertelur ayam menetas

(52) Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan binasa

(53) Ada udang ada garam
Ada orang banyak macam

(54) Pohon jati burung dara
Hati hati kalau bicara

(55) Kucing belang dalam tong
Jadi orang tahu diri dong

(56) Pohon ditebang banyak semutnya
Si abang banyak maunya

(57) Ada merpati berbulu bersih
Hati hati memilih kekasih

(58) Ada tong rusak besinya
Orang sombong susah hidupnya

(59) Tangkap ikan patah kailnya
Kemunafikan besar dosanya

(60) Ada banci main mata
Rasa benci jadi cinta

(61) Cabe lombok buat melek mata
Hei cowok jangan main mata

(62) Nenek lansia mau kemana
Jadi manusia hendaknya berguna

(63) Tupai mati kucing menguburkan
Perasaan hati bukan untuk dimainkan

(64) Di dunia banyak orangnya
Harta dunia bukan segalanya

(65) Anak tersesat dicari ibunya
Orang sesat susah hidupnya

(66) Selat Malaka banyak dermaga
Anak durhaka takkan masuk surga

(67) Sikap senohong gelama ikan duri
Bercakap bohong lama lama mencuri

(68) Tabtibau si puyuh padang
Hilang pisau berganti parang

(69) Panan adalah senjata mati
Qonaah adalah kekayaan sejati

(70) Di ayunan meminum suji
Keberanian adalah akhlak terpuji

(71) Buah nangka bentuknya bulat
Sudah tua bangka belum ingat akhirat

(72) Parfum dicium harum baunya
Baca Al Quran paham maknanya

(73) Siapkanlah bekal menjelang wafat
Dengan sebarkan ilmu yang bermanfaat

(74) Kiri kanan berbatang sepat
Perut kenyang ajaran dapat

(75) Obor itu untuk dinyalakan
Sabar itu tak terkalahkan

(76) Bunga ditata diatas meja
Hidup kita sementara saja

(77) Sudah jelatik tupai pula
Sudah cantik pandai pula

(78) Ada tempayan gede tutupnya
Anak perawan gede kentutnya

(79) Kata dulang paku serpih
Kata orang ia yang lebih

(80) Daun pandan sedap di masakan
Badan kecil pasti sedikit makan

(1) Dahulu ketan sekarang ketupat
Dahulu preman sekarang uztad


(2) Kelapa diparut enak rasanya
Biar perutnya gendut baik hatinya

(3) Ikan lele beli di pasar
Persoalan sepele jangan diumbar


(4) Tiada umat sepandai Nabi
Turutlah ilmu sebelum mati


(5) Jalan jalan ke trotoar
Walau kampungan tapi pintar


(6) Burung elang burung kutilang
Aku pulang membawa uang


(7) Tas hitam di atas meja
Saya cakep siapa yang punya


(8) Limau perut di tepi rawa
Sakit perut sebab tertawa


(9) Ikan kakap makan kepompong
Banyak cakap suka bohong

(10) Situ bagendit jangan dicaci
Kakek genit digoda banci

(11) Air panas di dalam panci
Kurang pantas memuji diri

(12) Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senang hati

(13) Pinggan tak retak, nasi tak dingin
Tuan tak hendak, kami tak ingin

(14) Kayu lurus dalam gudang
Kerbau kurus banyak tulang

(15) Kura kura dalam perahu
Pura pura tidak tahu

(16) Gelatik di pohon jati
Cantik itu yang baik hati

(17) Ayam jago terbang ke awan
Ayo kita menjadi lawan

(18) Ikan sembilang di balik batu
Sudah dibilang jangan mengganggu

(19) Gelatik dalam rumah
Cantik itu yang ramah

(20) Gelatik mematuk polong
Cantik itu suka menolong

(21) Gelatik di pohon lada
Cantik itu berlapang dada

(22) Gelatik terbang ke awan
Cantik itu dermawan

(23) Ada jelaga di kereta
Mata terjaga hati tertata

(24) Buahnya ranum kulitnya luka
Bibir tersenyum banyak yang suka

(25) Tari saman indah gerakannya
Tanda iman lapang dadanya

(26) Indah delman sunda kelapa
Tanda iman berbakti ke ibu bapak

(27) Indah taman makan tajin
Tanda iman kerjanya rajin

(28) Indahnya taman waktu temaram
Tanda iman hidupnya tenteram

(29) Indahnya taman alangkah sejuknya
Yang bermain ada akidahnya

(30) Mintalah obat pada kerabat
Ikutlah nasehat agar selamat

(31) Indahnya taman tumbuh jati
Tanda iman, tepati janji

(32) Indahnya taman duduk di papan
Tanda iman, lakunya sopan

(33) Buah ditata di atas meja
Hidup kita sementara saja

(34) Gabah itu bahan makanan
Ibadah itu menyejukkan

(35) Perahu layang tenggelam karam
Dengan sembahyang hatimu tenteram

(36) Ikan toman dalam sulaman
Ikuti pedoman agar hidupmu aman

(37) Talang betutu tempatnya padi
Akhirat itu negeri abadi

(38) Kue apem di tangan penari
Hati adem wajahnya berseri

(39) Ayun ayunan sambil makan
Lantunan Quran menakjubkan

(40) Ke siantar dengan teruna
Sudah pintar parasnya arjuna

Pantun karmina menggunakan kata-kata kiasan atau kata-kata perumpamaan di baris pertama dan dijelaskan oleh isi di baris kedua. Anda dapat dengan jelas memahami arti pantun saat membaca baris kedua. Baris kedua ini menggunakan kata-kata langsung yang bisa dipahami. Kata perumpamaan pada baris pertama menggambarkan persamaan dalam suatu objek atau perilaku yang kemudian diklarifikasi di baris kedua. Bagaimana? Menarik bukan mempelajari pantun klasik seperti pantun karmina?

Semoga artikel pada contoh sajak karamin di atas dapat membantu Anda untuk lebih mengenal dan memahami jenis-jenis sajak, terutama karmina. Semoga artikel ini bermanfaat.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar