Skip to main content

Cara Pemakaian Tanda Koma yang Benar Menurut EYD

Tanda Koma adalah salah satu tanda baca paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia. Koma ini memiliki fungsi dasar yaitu untuk memisahkan satu hal dari yang lain sehingga tidak ada kesalahan berarti ketika membaca kalimat / pernyataan atau menulis angka. Bentuk koma yang sederhana dan sederhana tidak disertai dengan metode penulisan atau penggunaan yang sederhana. Pada artikel ini, kita akan membahas dan menjelaskan penggunaan koma.


Pengertian Tanda Koma



Menurut Oxford English Dictionary, kata koma berasal dari bahasa Yunani yaitu “komma (κόμμα)” yang berarti “sesuatu yang dipotong” atau “klausa pendek”.

Penggunaan Tanda Koma Menurut EYD

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan, terdapat 14 penggunaan dari tanda baca koma, yaitu :

1. Digunakan di belakang keterangan yang berada di awal kalimat yang bertujuan agar tidak terjadi kesalahan saat membaca dan memahami maksud kalimat.
Contoh :

  • Untuk membatasi penumpang yang membludak ketika masa liburan, pihak penyedia berbagai transportasi menaikkan harga tiket.
  • Dalam keadaan yang serba kekurangan ini, kita tidak boleh cepat menyerah dan pasrah pada keadaan.


2. Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan suatu petikan langsung dalam satu kalimat, jika petikan langsung itu diakhiri dengan tanda tanya (petikan langsung berupa kalimat tanya).
Contoh :

  • “Bolehkah aku ikut berlibur ke puncak dengan keluarga Lia?” tanya Diah kepada ibunya.
  • “Apakah aku bisa menjadi seperti ayah saat dewasa nanti?” aku bertanya pada ayah.

3. Digunakan untuk memisahkan tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah/negeri yang ditulis secara berurut.
Contoh :

  • Akta itu di tandatangani di Semarang, 28 Juli 1988
  • Aku lahir di Jakarta, 6 September 1990.
  • Dia di mutasi ke salah satu cabang perusahaannya yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat.


4. Digunakan untuk memisahkan penulisan nama penulis atau pengarang yang susunan namanya dibalik pada penulisan daftar pustaka.
Contoh :

  • Wahyuningsih, Sri. 2007. Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakyat.
  • Ayu, Dian. 2011. Merintis Usaha Antara Keterbatasan. Yogyakarta: Gudang Ilmu.
  • Arif, Muhammad. 2000. Penyebab Terjadinya Sesak Nafas. Bandung: Kreasi Kami.


5. Digunakan dalam penulisan catatan kaki.
Contoh :

  • Dian Ayu, Merintis Usaha Antara Keterbatasan. (Yogyakarta: Gudang Ilmu, 2011), hlm. 17.
  • Sri Wahyuningsih, Pelajaran Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pustaka Rakyat, 2008), hlm. 29.
  • Muhammad Arif, Penyebab Terjadinya Sesak Nafas. (Bandung: Kreasi Kami, 2000), hlm. 11.


6. Digunakan untuk membedakan antara nama dengan gelar, pada penulisan gelar akademik.
Contoh :

  • Muhammad Fadil, S. Kom menjadi salah satu dosen terbaik untuk tahun ajaran 2015-2016.
  • Setelah menjabat selama 5 tahun, akhirnya Bapak Prayitno Adji, S.E., M.M. resmi mengundurkan diri dari jabatan rektor.
  • Pasangan calon pengantin itu bernama Riani Sagita, S. Pd dan Adnan Khair, S.T.


7. Digunakan di depan angka persepuluhan atau antara rupiah dan satuan terkecil sen yang dinyatakan dengan angka.
Contoh :

  • Pada masa kecilnya nenek hanya diberi jajan sebesar Rp 20,50 oleh orang tuanya.
  • Tinggi pohon kelapa itu adalah 35,75 m.
  • Rumah kami memiliki luas sebesar 200,32 meter persegi.


8. Digunakan untuk mengapit keterangan tambahan dalam suatu kalimat yang sifatnya tidak terbatas.
Contoh :

  • Aku benar-benar salut dengan anak kecil itu, pintar sekali.
  • Kami sampai kehabisan kata-kata saat melihat pemandangan di pulau terpencil ini, sungguh indah.


9. Digunakan untuk menuliskan unsur dalam suatu rincian atau bilangan.
Contoh :
  • Saya, Ani dan Dion berjanji untuk melakukan pekerjaan ini bersama-sama.
  • Dalam pembahasan kali ini, diharapkan para pembaca dapat memahami pengertian, fungsi dan penggunaan tanda koma yang benar.
  • 3,14 * 100 = 314


10. Digunakan untuk memisahkan antara satu kalimat setara dengan kalimat setara berikutnya, yang diawali oleh kata-kata tertentu (tetapi, melainkan, sedangkan, kecuali).
Contoh :
  • Saya ingin sekali ikut liburan sekolah itu, tetapi ibu tak mengizinkannya.
  • Itu bukan kesalahanku, melainkan kesalahan kakak.
  • Ayah bertugas membersihkan halaman rumah, sedangkan ibu membersihkan ruangan didalam rumah.


11. Digunakan untuk memisahkan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, jika kedudukan kalimat tersebut berbeda (induk kalimat dan anak kalimat) kemudian kalimat yang berkedudukan sebagai anak kalimat berada sebelum/di depan induk kalimat.
Contoh :
  • Jika Tuhan mengizinkan, kita pasti akan bertemu lagi di masa yang akan datang.
  • Andai kau tidak segera menarikku, mungkin aku sudah masuk ke jurang itu.
  • Karena ia menjadi juara satu, ia mendapat hadiah liburan dari orang tuanya.


12. Digunakan di belakang suatu kata atau ungkapan yang merupakan penghubung antar kalimat (oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, meskipun begitu), kemudian penghubung tersebut berada di awal kalimat.
Contoh :
  • Oleh karena itu, kau perlu berterus terang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
  • Jadi, kau harus segera menyelesaikan kesaalahpahaman ini agar keadaan tidak semakin kacau.
  • Dengan demikian, kau berhak mendapat promosi jabatan tahun ini.
  • Sehubungan dengan itu, aku ingin meminta maaf atas nama dia.
  • Meskipun begitu, kami tetap percaya bahwa dia akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya.


13. Digunakan untuk memisahkan beberapa kata (o, ya, wah, aduh, kasihan) dari kata-kata lain yang berada dalam satu kalimat.
Contoh :

  • O, aku kira kau tidak jadi ikut.
  • Ya, aku paham dengan keadaanmu.
  • Wah, kau benar-benar berbakat dalam melukis.
  • Aduh, aku lupa membawa buku perpustakaan yang kemarin kupinjam.
  • Kasihan, nenek itu harus tidur di bawah kolong jembatan karena rumahnya habis terbakar minggu lalu.


14. Digunakan untuk memisahkan kalimat petikan langsung dari potongan kalimat lainnya.
Contoh :

  • Dia berpesan padaku, “Jangan meletakkan barang berharga di sembarangan tempat”.
  • “Jangan pulang terlalu malam” kata Ayah saat aku pamit keluar rumah tadi sore.
  • “Sudahlah ikhlaskan saja, mungkin ini sudah menjadi takdir Tuhan”, Nia berusaha untuk menghiburku.


15. Digunakan untuk memisahkan antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, yang ditulis secara berurut.
Contoh :

  • Seminar itu diadakan di Gedung B Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba No. 6, Jakarta.
  • Resepsi pernikahannya di Gedung Permata, jalan lestari Indah No 27, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
  • Wisuda tahun ini dilaksanakan di Hotel Horizon, Ancol, Jakarta Utara.


Demikianlah pembahasan tentang penggunaan tanda koma yang benar menurut EYD dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat.
Mungkin Anda Suka
Buka Komentar
Tutup Komentar