Tata Cara Penulisan Tesis ( Karya Ilmiah) Yang Baik dan Benar

Tata Cara Penulisan Tesis ( Karya Ilmiah) Yang Baik dan Benar
Tata Cara Penulisan Tesis ( Karya Ilmiah) Yang Baik dan Benar
TATA CARA PENULISAN KARYA ILMIAH (TESIS) 
Setiap mahasiswa di perguruan tinggi dituntut untuk membuat tulisan ilmiah. Untuk mahasiswa pascasarjana program pascasarjana diperlukan untuk membuat tesis untuk gelar master. Pendekatan ilmiah pada dasarnya berisi pengumpulan fakta atau data, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan. Langkah-langkah dari pendekatan ilmiah termasuk
1.      Menemukan masalah
2.      Mengemukakan fakta adanya masalah 
3.      Mengembangkan hipotesis atau menentukan fokus
4.      Mengumpulkan data 
5.      Melakukan analisis dan menafsirkan data 
6.      Menarik kesimpulan 
7.      Melakukan generalisasi bila diperlukan 


A.    Hakikat dan TujuanTesis 
Tesis ini adalah karya asli dari hasil penelitian ilmiah berkualitas tinggi dan memberikan kemampuan bagi siswa untuk menghargai prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, untuk menguasai dasar-dasar sains dan metodologi penelitian, untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang bidang yang diteliti , untuk mengkomunikasikan ide dan temuan dari peneliti, baik secara lisan maupun tertulis.
Secara umum tujuan dari tesis ini adalah untuk menunjukkan kemampuan siswa dalam:
1. Lakukan penelitian independen
2. Berikan donasi untuk mengembangkan ilmu melalui penelitian.
3. Mendokumentasikan hasil penelitian dan mengirimkan ke komunitas ilmiah (dengan menulis tesis)
Tata Cara Penulisan Tesis ( Karya Ilmiah) Yang Baik dan Benar

Persiapan makalah ilmiah dapat dikemas dalam tiga elemen utama, yaitu:
1. Kegiatan panggung prestise
2. Pemilihan topik skripsi
3. Pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tesis bervariasi, tergantung pada kegigihan siswa. Siswa yang tekun dan serius, mereka dapat menyelesaikan tesis sekitar satu tahun.

1. Kegiatan Praktis
Siswa berencana untuk menulis tesis, seharusnya sudah mulai berpikir tentang masalah atau topik yang akan dipelajari sebelum mempersiapkan proposal skripsi. Pemilihan topik penelitian sebelumnya akan memungkinkan siswa untuk mencari, menemukan, dan mengumpulkan informasi yang dapat digunakan materi di latar belakang masalah.

2. Pemilihan Topik Tesis
Menentukan topik penelitian tesis terkadang dirasakan sangat sulit oleh siswa. Hal ini terjadi karena siswa yang bersangkutan tidak memulai dengan mencari masalah atau menemukan masalah terlebih dahulu, segera mencari topik penelitian. Idealnya, langkah pertama penelitian adalah untuk menentukan masalah terlebih dahulu dan kemudian meninjau dan menyusun teori atau hasil penelitian yang relevan dengan masalah untuk mendapatkan data empiris atau fakta yang dapat mendukung masalah. Jika masalah sudah diperbaiki dan fakta pendukungnya jelas, topik itu sendiri lebih mudah ditentukan, meskipun cakupannya masih terlalu luas.

3. Pelaksanaan Penelitian dan Penulisan Skripsi
Mahasiswa akan menulis skripsi harus membuat jadwal penulisan rencana skripsi. Jadwal berisi alokasi waktu yang tersedia bagi siswa untuk menemukan ide-ide bagus dan pembagian waktu untuk berbagai kegiatan yang diperlukan untuk penulisan skripsi
Siswa harus menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan hubungan kerja mereka dengan penasehat / penasihat mereka. Ketika kegiatan konsultasi siswa dengan pengawas intensif dan berjalan dengan lancar, siswa perlu mempersiapkan catatan termasuk penulisan dokumen, ringkasan pertemuan dan diskusi, ringkasan masalah, pertemuan / acara konsultasi, dan bab demi bab.

B.     Siklus Penulisan Tesis
Penulisan skripsi Tesis adalah proses mengurangi ketidakpastian menemukan kebenaran ilmiah, meskipun kebenaran ilmiah tidak kekal, atau kebenaran terbatas dalam lingkup area dan waktu tertentu. Kegiatan penulisan skripsi dimulai dengan memeriksa bidang studi yang luas, yang dapat menghasilkan ribuan tesis. Siswa harus mengurangi ketidakpastian dengan mengurangi jumlah kemungkinan yang harus dipertimbangkan. Ini dilakukan dengan memperhatikan beberapa topik dan setiap topik dievaluasi. Siklus penulisan skripsi dilakukan dari umum ke spesifik. Siklus ini dapat dicapai melalui:
1. Pemilihan penelitian lapangan secara umum
2. Pemilihan beberapa topik untuk dievaluasi
3. Pemilihan satu topik dan menulis proposal penelitian
4. Menulis garis besar bab perincian
5. Penyempurnaan tinjauan literatur
6. Implementasi dan penyelesaian penelitian
7. Penyelesaian makalah skripsi
8. Pelaksanaan konsultasi untuk mendapatkan persetujuan dari penasihat / komisi penasihat (poin 1-7 harus didiskusikan dengan pembimbing/promotor).
Penyelesaian tesis harus mengikuti langkah-langkah umum di atas.

TEKHNIK PENULISAN 
A.    Aturan Umum Penulisan 
Teks tesis diketik pada kertas HVS kuarto putih seberat 80 gram dengan huruf Times New Roman ukuran 12 dengan jarak ganda. Jika kertas harus digunakan kertas khusus, seperti kertas grafik, kertaskalkir untuk menggambar dan sebagainya, dapat menggunakan kertas di luar ketentuan di atas.
Selain itu, ada juga aturan umum tentang pengetikan posisi, yaitu:
1. Batas kiri (atas) dan jarak mengetik atas 4 cm, dan tepi kanan dan bawah 3 cm.
2. Setiap bab yang diketik diikuti oleh judul bab di bawah ini, selalu dimulai pada halaman baru.
3. Sub-bagian di bagian bawah halaman harus memiliki setidaknya dua baris kalimat di bawah sebelum pindah ke halaman berikutnya.
4.Akhir dari kalimat bab atau bagian yang terdapat di bagian atas halaman baru harus memiliki setidaknya dua baris penuh sebelum pindah ke sub-bagian
berikutnya.
5. Akhiri kalimat dari paragraf yang terdapat di bagian atas halaman baru, setidaknya dua baris sebelum pindah ke paragraf berikutnya.
6. Kalimat awal paragraf terdapat di bagian bawah halaman, setidaknya dua baris sebelum pindah ke halaman berikutnya.
7. Setiap tabel harus utuh pada satu halaman (jika menggunakan tabel panjang, bisa menjadi potongan, tetapi harus diberi nomor kolom)

Selain menulis paragraf baru dan nomor halaman, aturannya adalah:
1. Paragraf baru dimulai pada ketukan keenam
2. Nomor halaman yang menggunakan angka dan ditempatkan di kanan atas adalah 3cm dari tepi atas dan kanan.
3. Khusus untuk halaman yang berisi judul bab, nomor halaman ditempatkan di bagian tengah bawah menggunakan angka.
4. Khusus untuk halaman sebelum bagian utama laporan, nomor halaman menggunakan angka romawi kecil (i, ii, iii, dll.) Dan ditempatkan di bagian bawah tengah.
5. Persamaan dalam bentuk rumus matematika, reaksi kimia dan lain-lain, ditandai dengan angka Arab dalam tanda kurung (1), (2) dan seterusnya. Itu ditempatkan di tepi kanan bidang pengetikan.

1. Penomoran 
Aturan tentang penomoran Bab dan Bagian, yaitu:
Sebuah. Bab-bab diketik dengan huruf besar dan nomor bab dengan angka romawi besar pada halaman baru ditempatkan secara simetris antara tepi kiri dan kanan bidang pengetikan.
b. Judul bab diketik dengan huruf besar dengan jarak tiga spasi di bawah nomor bab.
c. Jarak antara judul bab dengan baris pertama dari paragraf pertama adalah tiga spasi.
d. Jarak antara baris terakhir dari sub-bagian dengan bagian berikutnya adalah tiga spasi.
e. Jarak antara sub-judul dan baris pertama alineai pertama adalah tiga spasi
f. Sub-judul dikodekan dengan huruf besar dan diketik di tengah bidang pengetikan.
g. Sub-judul lebih dari dua baris diketik dengan spasi spasi tunggal.
h. Anak-anak sub-bagian lebih dari dua baris diketik dengan spasi spasi tunggal
saya. Anak dari subclause diberi kode angka Arab yang diketik di tepi kiri bidang pengetikan.
j. Cucu dari sub-bagian dikodekan huruf kecil dan diketik di tepi kiri.
k. Cicit dari sidebar dikodekan angka Arab dengan tanda kurung dan diketik di tepi kiri.
l. Sepotong sub-bagian dikodekan huruf kecil dengan kurung tutup dan diketik pada ketukan ke-6
m. Jika ada pembagian sub-bagian, itu dikodekan dalam angka Arab seperti (1), (2), (3) dll. Ketika dimasukkan dalam teks, item yang ditulis secara berurutan dikodekan secara numerik dan diketik pada ketukan ke-6 .

2.      Penyajian Tabel dan Gambar 
a.      Penyajian Tabel 
Tabel ini digunakan untuk menyajikan data / informasi hasil penelitian, yaitu menuangkan informasi dalam bentuk yang lebih ringkas dan lebih teratur bila dibandingkan dengan penjelasan dalam teks. Oleh karena itu, tabel harus dipersiapkan dengan baik dan teliti.

Tabel harus diberi identitas (nomor dan nama tabel) dan ditempatkan di atas tabel. Kata-kata tabel ditulis pada ketukan keenam, diikuti oleh nomor dan judul tabel. Judul tabel ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertama setiap kata kecuali tanda hubung. Jika judul tabel lebih dari satu baris, baris kedua dan seterusnya ditulis paralel dengan huruf awal dari judul tabel dengan spasi tunggal, diberikan tiga spasi antara teks sebelum tabel dan teks setelah tabel. Nomor meja ditulis dengan angka Arab sebagai identitas tabel yang menunjukkan bab di mana tabel dimuat dan nomor seri dalam bab yang bersangkutan. Jadi, untuk setiap nomor bab uru tabel nomor 1.

Contoh:
Tabel 2.2 Jumlah siswa laki-laki dan perempuan di kelas V SD Negeri 25 MattirowaliE kab. Tulang
Nomor tabel ini menunjukkan bahwa tabel yang berjudul "Jumlah siswa laki-laki dan perempuan di kelas V SD Negeri 25 MattirowaliE kab. Bone" terletak di Bab II dan nomor seri dari tabel kedua.

Meja terdiri dari kolom dan jalur. Kolom tidak diberi garis vertikal. Bagian atas dan bawah meja, serta judul kolom diberi celah horisontal dengan jarak satu setengah spasi (1,5 cm). Lebar meja tidak boleh melebihi lebar area pengetikan. Untuk tabel memanjang dapat diketik sesuai dengan lebar kertas. Tabel yang dapat dimuat pada satu halaman diketik utuh pada satu halaman.

Menggambarkan isi tabel dengan mengulangi angka-angka dalam tabel harus dihindari. Nomor meja harus disebutkan secara tertulis, dengan menentukan nomor identitas.

Contoh:
Berdasarkan Tabel 2.2. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

b. Penyajian Gambar / Ilustrasi 
Untuk tujuan ilmiah, banyak jenis ilustrasi dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi. Foto, lukisan, peta, gambar garis, grafik, histogram dan grafik adalah ilustrasi yang paling umum digunakan.

Gambar dapat menyajikan data dalam bentuk visual yang dapat dipahami. Presentasi gambar harus dimaksudkan untuk menekankan hubungan tertentu yang signifikan dan tidak boleh dimaksudkan untuk membangun deskripsi.

Berbeda dengan tabel yang judul ditempatkan di atasnya, gambar dan ilustrasi lain dari gambar ditempatkan di bawahnya. Cara menulis identitas gambar sama dengan menulis judul tabel. Gambar direferensikan menggunakan angka daripada menggunakan kata "gambar di atas". gambar diberi nomor menggunakan angka Arab seperti tabel penomoran

3. Pengetikan Bahasa 
Menulis makalah ilmiah harus menggunakan bahasa yang jelas, formal, tepat, dan lugas. Gaya bahasa formal dan lugas membutuhkan kemampuan untuk menggunakan kosakata dan terminologi yang tepat, keterampilan menyusun kalimat-kalimat yang sempurna, tidak memutar, dan struktur alenia yang koheren. Penugasan dan formalitas gaya bahasa juga diwujudkan dengan menggunakan kalimat pasif dan menghindari penggunaan kata ganti seseorang jika referensi mengacu pada penulis

Ciri Bahasa Indonesia Baku 
a. Pemakaian prefiks me- dan ber- -bila ada- secara eksplisit dan konsisten. Contoh :
Penyakit menyerang kampung itu (baku)
Penyakit serang kampung itu (nonbaku 
b. Pemakaian fungsi gramatikal (subjek,predikat,dan sebagaianya) secara eksplisit  dan konstisten. Contoh :
Ia pergi ke kekantor (baku)
Ia ke kantor (nonbaku) 
c. Pemakaian kongjungsi; bahwa, dan, karena, dan –bila, secara eksplisit dan konstisten. Contoh :
Disadari bahwa data belum terkumpul semua (baku).
Disadari, data belum terkumpul semua (non baku). 
d.  Pemakaian pola frasa verbal aspek+agen+verba –bila ada- secara konstisten.Contoh : 
  Sudah engkau baca buku ini? (baku).
Engkau sudah baca buku ini? (non baku). 
e.  Pemakaian konstruksi sintaksis. Contoh :
Baku          : harganya, membersihkan.
Non baku  : dia punya harga, bikin bersih. 
f.       Pemakaian partikel –kah dan –pun secara konsisten. Contoh :
Bagaimanakah kasus itu? (baku)
Bagaimana kasus itu? (non baku) 
g. Pemakaian unsur-unsur leksikal berikut berbeda dari unsur-unsur yang menandai bahasa Indonesia nonbaku. Contoh :
Baku : silakan, serasi.
Non baku : silahkan, serasi 
h. Pemakaian Ejaan yang Disempurnakan,kosakata, dan istilah resmi sehingga diperoleh kalimat yang bersih dariunsur dialek daerah dan bahasa asing yang belum dianggap unsurbahasa indonesia. 
i. Pemakaian kata penghubung.
Kata penghubung yang harus dilalui tanda koma ..., tetapi ..., sedangkan dan sebagaianya.
Kata penghubung yang tidak boleh didahului tanda koma ... jika ... agar dan sebagaianya.
Penghubung antar kalimat harus selalu diikuti tanda koma Jadi, ... Pertama, ...  dan sebagainya. 

4. Penggunaan tanda baca 
Berikut ini beberapa kaidah penting yang perlu diperhitungkan dalam penggunaan berbagai tanda baca. 
a. Tanda Titik (.)
Tanda titik selalu digunakan: 
1)   pada akhir kalimat pernyataan; 
2)   pada beberapa singkatan tertentu (a.h. nasution); 
3)   dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, tabel, iktisar, dan daftar (tabel 3.1, gambar 2.4 dan sebagainya); 
4) sebagai pemisah bilangan angak ribuan dan kelipatan yang menunjukkan jumlah (7.000.000,25.451); 
5)   untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu misalnya: pukul 1.35 (pukul satu lewat 35 menit).
Tanda titik tidak digunakan untuk: 
1)   memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah; 
2)   menyatakan bilangan persepuluhan; 
3)   menghubungkan jam denga menit; 
4)   singkatan nama unsur; 
5)   singkatan nama negara; 
6)   satuan ukuran; 
7)   akhir judul, anak judul atau sirahan; 
8)   dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf. 
b. Tanda koma (,) 
 Tanda koma digunakan untuk ; 
1)   Memisahkan butir-butir dalam suatu deret; 
2)   Memisahkan sintaksis dalam kalimat; 
3) Memisahkan antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga; 
4)   Menyatakan pecahan persepuluhan atau di antara rupiah dan sen; 
5)   Menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka; 
6)   Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului kata seperti tetapi atau melainkan 
7)   Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya
Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengikuti induk kalimamatnya.  
c.       Tanda Titik Koma (;)
Merupakan tanda koordinasi dan digunakan untuk memisahkan unsur-unsur sintaksis yang setara, atau dalam deret yang didalamnya sudah mengandung tanda baca lain. 
d. Tanda Titik Dua (:)
Digunakan untuk : 
1)   Menandakan nisbah perbandingan; 
2)   Menekankan urutan pemikiran di antara dua bagian kalimat lengkap; 
3)   Memisahkan judul dan anak judul; 
4) Memisahkan tahun dan halaman kalau pengacuan halaman dilakukan pada sistem pengarang tahun dalam teks; 
5)   Memisahkan bab dan ayat dalam kitab suci; 
6)   Menghubungkan angka jam dan menit; 
7)   Memisahkan kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian 
8)   Tanda (:) digunakan pada kalimat lengkap, yang diikuti rincian berupa kata atau frasa.
Contoh :
Syarat-syarat untuk dapat melamar menjadi pegawai negeri sipil, antara lain, adalah sebagai berikut : 
1. Warga negara Indonesia; 
2. Berusia antara 18 dan 40 tahun;
Syarat titik dua tidak digunakan sebelum rincian yang merupakan pelengkap kalimat atau karena kalimat pengantarnya belum lengkap.
Contoh :
Syarat-syarat untuk melamar menjadi pegawai negeri sipil, antara  lain adalah : 
1. warga negara Indonesia; 
2. berusia antara 18 dan 40 tahun;
tanda titik dua diganti dengan tanda titik pada kalimat lengkap, yang diikuti suatu rincian berupa kalmat lengkap pula.
Contoh :
Syarat-syarat untuk dapat melamar menjadi pegawai negeri sipil sebagai berikut. 
1. Pelamar adalah warga negara Indonesia. 
2. Pelamar harus berumur 18 dan 40 tahun. 
e.  Tanda Tanya (?)
Digunakan pada akhir kalimat pertanyaan langsung dan diketik rapat  dengan huruf yang mendahuluinya. Contoh : Siapakah penulis buku itu? 
f. Tanda Petik (“....”)
Tanda petik digunakan untuk: 
1) Mengapit kutipan langsung yang berasal dari pembicaraan langsung, naskah, atau bahan tulis lain; 
2) Mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti kata khusus (“coba dan ralat”). 
g.  Tanda Petik Tunggal (‘....’)
Tanda petik tunggal digunakan untuk : 
1) Mengapit petikan yang tersusun di antara petikan lain; 
2) Mengepit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing  
h.  Tanda Elipsis (...) 
Digunakan untuk menunjukkan bahwa ada bagian yang dihilangkan pada satu kutipan. Tanda elipsis dengan titip empat digunakan pada akhir kutipan bila ada kata-kata yang dihilangkan dalam kutipan. 
i. Tanda Garis Miring (/)
Tanda garis miring dgunakan untuk : 
1) Mengganti tanda bagi atau menunjukkan bilangan pecahan (1/2=0,5); 
2) Mengganti kata dan atau diantara dua perkataan yang tidak dimaksudkan sebagai pilihan sinonim yang diselankan (permusyawaratan/perwakilan); 
3) Memisahkan bagian-bagian penangalan yang ditulis dengan angka, terutama, dalam penulisan tabel (3/2/2015) 
j.Tanda Ampersan (&)
Berfungsi sebagai penggganti kata dan bila bentuk lebih singkat diinginkan dan dianjurkan untuk kepustakaan.  
Contoh : saya & dia. 
Penulisan Tanda Baca 
a)        Titik (.), koma (,), titik dua (:)  , tanda seru (!), tanda tanya (?), dan tanda persen (%), diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya. 
 Contoh :
Baku                       : data sudah dianalisis.
Non baku                : data sudah dianalisis  . 
b)      Tanda petik, (“...”)  dan tanda kurung () diketik rapat dengan huruf dari kata atau frasa yang diapit. 
 Contoh :
Baku                       : dua negara “serumpun”
Nonbaku                 : dua negara “  serumpun  “ 
c)      Tanda hubung (-), tanda pisah (--), dan garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan mengikutinya.
Contoh :
Baku                       : anda harus berhati-hati.
Non baku                : anda harus berhati – hati.  
d)     Tanda sama dengan (=), lebih besar (>), lebih kcil (<), tambah (+)                    
kurang (-), kali (x), bagi (:), diketik dengan spasi satu ketukan sebel;um dan sesudah huruf atau angka yang mendahului dan mengikutinya. 
 Contoh:
Baku                       :  p = 0,05
Nonbaku                 : p=0,05  
e)      Tanda ampersan (&) diketik dengan spasi satu ketukan sebelum dan sesudah huruf, atau tanda baca yang mendahului dan mengikutinya.
Contoh :
Baku                       : Ahmad & Abdullah
Non baku                : Ahmad&Abdullah 

5.      Angka dan Lambang Bilangan. 
Huruf Latin yang sekarang lazim digunakan di seluruh dunia mengenal dua macam  angka, yaitu anka arab dan angka romawi yang digunakan untuk menyatakan lambang dan nomor. Angka arab lebih banyak digunakan dalam karya tulis sebab sistemnya lebih efektif. Akan tetapi angka romawi juga sering digunakan  bersama anka arab, terutama untuk keperluan khusus. Secara umum, dalam laras bahasa arab digunakan untuk. 
a. Menyatakan jumlah yang mendahului satuan ukuran (10 g, 2 m) 
b. Menyatakan satuan waktu ( 2 jam  3 menit, tahun 2015) 
c. Menyatakan nilai uang, tanggal, waktu, halaman, persentase, penunjukan, urutan yan diawali ke- (Rp 30.000,00, abad ke-20) 
d. Menyatakan kuantitas/jumlah yang berkaitan dengan manipulasi matematika (125 orang) 
e. Menanyakan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat (Jalan Ratulangi   No.125) 
f. Menyatakan bagian karangan dari ayat kitab suci (Bab X , Pasal  5, halaman 252)  

Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut : 
a.       Bilangan utuh  (dua belas   12) 
b.      Bilangan pecahan (setengah 1/2) 
c.       Penulisan bilangan yang mendapat akhiran –an (tahun ’50-an  atau lima puluhan) 
d.      Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Contoh :
Amir menonton pertunjukan itu sampai dua kali. 
Di antara 50 anggata yang hadir, 25 setuju, 25 tidak setuju. 
e. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Contoh :