Langkah Cara menjadi WL (Worship Leader) SINGER DAN PEMUSIK Yang baik dan Benar di Gereja untuk Pemula

Langkah Cara menjadi WL (Worship Leader)  SINGER DAN PEMUSIK Yang baik dan Benar di Gereja untuk Pemula
Langkah Cara menjadi WL (Worship Leader)  SINGER DAN PEMUSIK Yang baik dan Benar di Gereja untuk Pemula
Langkah Cara menjadi WL (Worship Leader) Yang baik dan Benar di Gereja untuk Pemula. A.      Latar Belakang
Seorang Worship Leader (WL) bukan hanya sekedar berperan sebagai pemimpin pujian dalam sebuah ibadah atau komsel, namun lebih daripada itu. Seorang Worship Leader seharusnya berperan sebagai penyembah yang benar (taken of role to be a true worshiper) yang senantiasa hidup di dalam doa (Yoh. 4:23), serta berpegang teguh pada kebenaran firman Allah setiap hari (Fil. 2:13-15).
Seorang Worship Leader bukan hanya cakap memimpin pujian dan penyembahan atau memiliki suara yang bagus, tetapi harus menjadi seorang pribadi penyembah yang dipanggil dan diurapi oleh Allah untuk melayani dalam sebuah ibadah atau mengaplikasikan pujian dan penyembahan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang  terpanggil untuk mengambil bagian dalam pujian dan penyembahan ini, bukan hanya mereka yang  pandai bermain musik atau bernyanyi, namun mereka yang  telah menyerahkan diri sepenuhnya dan setia untuk melayani dalam bidang pujian dan penyembahan (Mzm. 57:8-10, Mzm. 108:2-4).

Seorang Worship Leader bertanggung jawab kepada Tuhan dan Gereja-Nya dalam rangka melaksanakan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan serta sebagai wujud ucapan syukur atas setiap anugerah yang diberikan-Nya kepada kita, sesuai dengan talenta dan kapasitas rohani masing-masing.
Langkah Cara menjadi WL (Worship Leader)  SINGER DAN PEMUSIK Yang baik dan Benar di Gereja untuk Pemula

B.       Persiapan Awal Memimpin Pujian dan Penyembahan
Persiapan awal merupakan bagian yang sangat penting bagi seorang Worship Leader (Pemimpin Pujian), sebab hal ini akan mempengaruhi keberhasilan kita pada saat memimpin pujian dan penyembahan dalam sebuah ibadah gerejawi. Adapun persiapan awal tersebut meliputi 2 (dua) hal sebagai berikut:

  Persiapan Diri
Sebelum mengawali pelayanan pujian dan penyembahan, seorang Worship Leader hendaknya mempersiapkan diri dengan baik, dengan cara membangun hubungan pribadi yang erat bersama Tuhan melalui kehidupan doa yang benar untuk memohon pengampunan dosa, penyertaan dan hikmat dari Tuhan (Ams. 24:3, Kol. 3:23). Mengapa harus demikian? Karena tanpa penyertaan dan hikmat dari Tuhan, maka pelayanan kita akan menjadi kacau dan sia-sia (Mzm. 127:1) serta Tuhan tidak berkenan dengan pelayanan pujian dan penyembahan kita (Kej. 4:4-5, Hos. 4:6).
Persiapan doa ini bisa dilakukan secara pribadi maupun dalam kelompok doa yang telah diagendakan oleh gereja. Betapa pentingnya mengawali setiap pelayanan dengan doa, sehingga pelayanan pujian dan penyembahan yang kita lakukan menyenangkan hati Tuhan serta menggerakkan Roh Kudus untuk melawat setiap jemaat yang hadir dalam ibadah (Rom. 12:1, Kis. 2:1-4).
Jika hal ini terjadi, maka pemulihan dan mujizat yang datangnya dari Tuhan akan dinyatakan dalam ibadah, khususnya pada saat pujian dan penyembahan dinaikkan dengan benar di hadapan Tuhan oleh Worship Leader dan jemaat (Yos. 6:20, Kis. 12:11-12).

Persiapan Teknis
Setelah melakukan persiapan diri dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah melakukan persiapan secara teknis. Seorang Worship Leader yang baik hendaknya mempersiapkan beberapa hal teknis agar mampu memimpin pujian dan penyembahan dengan tertib dan mendatangkan sukacita bersama dalam ibadah. Berikut ini merupakan langkah-langkah yang penting untuk dilakukan seorang Worship Leader sebelum memulai pelayanan pujian dan penyembahan:
1)   Mempersiapkan daftar lagu/pujian yang akan dinyanyikan untuk diserahkan kepada para pemain musik dan petugas OHP/LCD projector.
2)   Menentukan tema pujian dan penyembahan sebelum memilih susunan lagu atau jenis musik yang akan dinyanyikan.
3)  Perhatikan pemilihan lagu dalam daftar pujian yang disusun berdasarkan tema, apakah WL dan jemaat menguasai lagu yang akan dinyanyikan tersebut dengan baik atau tidak. Jika tidak, maka perlu dipertimbangkan lagi apakah lagu tersebut tidak jadi dinyanyikan, atau tetap dinyanyikan dengan catatan WL dan singers harus hafal syair lagu yang dimaksud dan melatih jemaat secara bertahap agar dapat menguasai lagu tersebut dengan baik.
4)   Memastikan berapa lama pujian dan penyembahan akan berlangsung serta tentukan alokasi waktu, jika selama aktivitas pujian tersebut memberikan ruang kesaksian atau kata sambutan tertentu dari jemaat yang sedang dilayani.
5)   Mengikuti latihan sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan bersama dengan singers (jika hendak menggunakan beberapa singer sebagai pendukung vokal) dan tim musik.
6)  Hadir 10-20 menit sebelum ibadah dimulai untuk persiapan diri (doa bersama) dan persiapan teknis (check sound/microphone dengan pemain musik).
7) Beradaptasi dengan suasana gereja dimana liturgi atau acara ibadah akan diselenggarakan. Biasakanlah mempertimbangkan hal-hal berikut ini sebelum melayani sebagai Worship Leader dalam ibadah:
  Estimasi jumlah jemaat yang biasa hadir dalam acara ibadah
Pada prinsipnya jumlah memang tidak memengaruhi kualitas rohani sebuah pujian dan penyembahan, namun faktor ini perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan hal-hal yang bersifat teknis, misalnya dengan kondisi jumlah jemaat yang banyak, maka WL harus meningkatkan kemampuan penglihatan untuk memastikan bahwa seluruh jemaat menikmati pujian dan penyembahan dengan baik, atau mereka hanya sekedar bernyanyi. Dengan memperhatikan faktor ini, WL diharapkan dapat membantu menciptakan atau membangkitkan suasana pujian dan penyembahan yang lebih semangat dan dinamis, mungkin bisa juga WL dibantu dengan para singers (jika ada) mengajak jemaat untuk melakukan gerakan tertentu sesuai dengan lagu yang sedang dinyanyikan, agar pujian dapat berlangsung dengan meriah dan penuh sukacita.

  Kondisi jemaat
Apakah mayoritas jemaat berusia tua, muda, atau komposisinya berimbang antara usia tua dan muda, sehingga WL dapat menyesuaikan lagu pujian dan ritme musik dengan kondisi jemaat.

Kapasitas ruang dan sound system pendukung ibadah
Hal ini berkaitan dengan kapasitas atau volume suara WL pada saat memberikan instruksi atau ketika menyanyi, agar dapat didengar dengan jelas oleh jemaat.

Waktu penyelenggaraan ibadah
Perhatikan apakah ibadah berlangsung waktu pagi, siang, ataupun malam, sebab hal ini berkaitan dengan pemilihan nada dasar yang disesuaikan dengan kondisi pita suara Worship Leader. Proses adaptasi ini sangat penting, terutama jika pelayanan tersebut akan dilakukan dalam sebuah komunitas atau kelompok jemaat yang masih baru dan kita belum mengenal para jemaat dengan akrab. Hal ini berlaku juga untuk singers atau tim musik yang melayani di gereja lokal maupun pada saat memenuhi undangan pelayanan di luar gereja lokal.

C.      Kriteria Seorang Worship Leader
Untuk menjadi seorang Worship Leader yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan, maka diperlukan kecakapan khusus secara rohani maupun teknis, agar pelayanan pujian dan penyembahan dapat berlangsung sesuai rencana, sehingga jemaat diberkati secara rohani melalui pelayanan kita tersebut. Berikut ini akan diuraikan kriteria secara rohani dan teknis yang hendaknya dipenuhi oleh seorang Worship Leader.
  Kriteria Rohani
Ø  Lahir baru (II Kor. 5:17, Ef. 4:21-32) serta mengalami buah-buah pertobatan dalam dirinya (Gal. 5:22-23).
Ø  Memiliki karakter Kristus (Fil. 2:1-5).
Ø  Selalu semangat untuk melayani Tuhan (Rom. 12:11) dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus (Ef. 5:18b).
Ø  Hidup dalam doa dan penyembahan yang benar setiap hari (Yoh. 4:23, Ef. 5:19-20).
Ø  Mengerti dan melakukan kebenaran firman Tuhan setiap hari (Mzm. 119:105, Mat. 13:23, II Tim. 3:14-17).
Ø  Berusaha untuk senantiasa hidup dalam kekudusan (Ibr. 12:14, Mzm. 15:1-3, 24:4-5, I Ptr. 1:16).

  Kriteria Teknis
Ø  Memiliki talenta vokal yang cukup baik serta selalu membiasakan diri agar tidak menyanyi dengan suara yang sumbang (fals voice).
Ø  Mengerti pengetahuan dasar tentang musik (nada dasar dan kode/simbol instruksi lagu sebagai sarana komunikasi antara WL dengan pemain musik pada saat performance).
Ø  Mampu memimpin pujian dan penyembahan dengan baik (tumbuhkan rasa percaya diri/ berusaha untuk meminimalisasi rasa gugup/grogi pada saat akan melayani; disinilah salah satu alasan pentingnya doa sebelum melayani, agar Roh Kudus memampukan kita untuk memimpin dengan tegas dan penuh percaya diri).
Ø  Mampu berkomunikasi dengan baik melalui penggunaan kata-kata yang positif untuk menguatkan iman dan membangun kehidupan rohani jemaat yang sedang dilayani.
Ø  Mencari dan mengembangkan perbendaharaan lagu pujian (belajar untuk menghafal lirik atau kata-kata dalam syair lagu, baik lagu pujian dan penyembahan versi lama maupun baru).

D.      Hal-Hal Praktis Yang Harus Diperhatikan Saat Menjadi Worship Leader
Menjadi seorang Worship Leader sebenarnya tidak terlalu sulit, asalkan kita mempelajari dan memahami dengan benar hal-hal penting yang berkaitan dengan pelayanan ini, agar tugas pelayanan tersebut dapat berlangsung sesuai rencana. Berikut ini adalah hal-hal praktis yang dapat dijadikan acuan untuk mengawali dan menjalankan tugas sebagai seorang Worship Leader dalam sebuah ibadah:
1.    Cobalah untuk membangun komunikasi yang erat dan hangat dengan jemaat yang kita layani pada kesempatan pertama dengan penuh kasih dan tidak terkesan “dibuat-buat”, baik melalui kata-kata pembuka yang mengakrabkan atau yang menguatkan rohani jemaat, serta jangan lupa berikan pandangan mata dan senyuman yang manis agar tidak terkesan bahwa pujian dan penyembahan sedang dalam suasana yang tegang. Ciptakan suasana pujian dan penyembahan yang nyaman serta menyenangkan, sehingga jemaat dapat menikmati hadirat Tuhan dengan baik.
2.  Hindari menggunakan kata-kata atau instruksi yang melemahkan dan menghakimi jemaat, misalnya menghakimi atau menegur jemaat yang terlambat datang ibadah pada saat WL sedang memimpin pujian dan penyembahan, atau menghakimi jemaat mengenai cara mereka ketika memuji Tuhan. Jangan paksakan jemaat untuk “menjadi sama” seperti kita, tugas kita hanyalah mengajak dan mengarahkan jemaat untuk tetap fokus dan menikmati suasana pujian dan penyembahan. Gunakan selalu kata-kata iman untuk memotivasi jemaat dan mendorong mereka untuk semangat dalam memuji Tuhan.  Berikut ini adalah beberapa contoh kata-kata positif yang dapat digunakan untuk memotivasi jemaat:
Ø  “Shaloom.. Saya percaya Allah hadir di sini dan siap memberkati Saudara..!” (dengan memberikan senyum seraya mengangkat salah satu tangan sebagai ekspresi memberkati).
Ø  “Bapak, ibu, dan saudara sekalian percaya bahwa ada kuasa dalam pujian dan penyembahan saat ini..?” (dengan memberikan senyum, sambil mengangkat bahu, seraya mengangkat salah satu tangan menunjukkan ekspresi bertanya kepada jemaat).
Ø  “Saudara yang datang dengan masalah pasti akan pulang dengan membawa pemulihan dan pertolongan dari Tuhan..” (sambil tersenyum dan menunjukkan ekspresi bahwa selalu ada pengharapan di dalam Tuhan kepada jemaat sembari mengangkat tangan kanan setinggi kepala dengan posisi menengadah lalu mengarahkan jari telunjuk ke arah atas).
3.   Mempersiapkan penampilan yang terbaik untuk Tuhan dan jemaat dengan cara berpakaian yang rapi dan sopan, rambut disisir dengan rapi dan menarik, serta tunjukkan ekspresi wajah yang segar, cerah, dan bersih.
4.   Hindari pertentangan atau kesalahpahaman (miss understanding) dengan singers dan tim musik agar tidak menimbulkan suasana tegang dan perasaan seolah tidak ada damai sejahtera selama ibadah berlangsung.
5.  Berikan instruksi atau komentar lagu dengan jelas disertai senyuman manis, baik instruksi kepada tim musik (berkaitan dengan kode lagu) maupun kepada jemaat.
6. Jika pada saat pujian dan penyembahan berlangsung terjadi kesalahan atau gangguan secara teknis, maka usahakan pujian dan penyembahan tersebut tetap berlangsung dengan tertib dan jangan panik. Berusahalah untuk tetap tenang serta arahkan jemaat untuk tetap fokus memuji dan menyembah Tuhan. Ingatlah bahwa kita sedang memuji dan menyembah Tuhan, maka jangan mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang berusaha untuk mengganggu jalannya pujian dan penyembahan. Percayalah bahwa Roh Kudus yang akan menolong kita untuk mengatasi gangguan tersebut.
7.  Hindarilah pengulangan lagu yang terlalu sering agar jemaat tidak bosan atau jenuh, sehingga jemaat merasa enggan dan menjadi turun semangatnya untuk memuji Tuhan.
8.   Berusahalah peka terhadap kehendak Roh Kudus untuk suatu perubahan berkaitan dengan sikap dan berbagai ekspresi atau bersikap fleksibel ketika sedang memimpin pujian dan penyembahan agar tercipta suasana ibadah yang hidup, penuh sukacita, semangat, dan harmonis serta jemaat dapat merasakan jamahan kuasa Roh Kudus secara pribadi atas hidup mereka. Hal ini dapat terjadi ketika Worship Leader memiliki kualitas doa dan hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan (have an intimacy relationship with God).
9.  Hindari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik seperti terlalu sering menutup mata, gerakan tangan yang kurang baik (misalnya tangan diletakkan di saku, tangan diletakkan di belakang punggung, atau tangan menggaruk-garuk kepala), membelakangi jemaat, dan gerak refleks mata yang sering berkedip-kedip.
10.  Berikan komentar terhadap lagu seperlunya saja, sesuaikan dengan lirik lagu serta suasana pujian dan penyembahan pada saat itu.
11. Jangan biarkan suasana menjadi vakum (kosong tanpa ekspresi) karena WL seolah kehabisan kata-kata atau sedang berusaha untuk meminimalisasi perasaan gugup atau grogi yang terlalu lama.
12. Buatlah kesepakatan dengan tim musik dan singers mengenai instruksi atau kode tangan (hand signal) berkaitan dengan pemilihan nada dasar, pengulangan lagu (intro, middle, atau ending) menaikkan nada (overtone), memperlambat atau mempercepat tempo lagu, tinggi rendahnya volume suara, memberikan coda atau bridge (variasi tertentu dalam gaya bermusik), menunjuk hanya satu alat musik saja yang bunyi (drum only, keyboard only, guitar only, saxsophone only).

Sebagai worship leader, kadang kita bingung dengan peranan kita ketika melayani. Apakah tugas kita hanya sekedar bernyanyi? Atau, seperti yang sering dikatakan beberapa orang, tugas kita adalah membawa jemaat untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan. But, is it that all? I don't think so.
Di dalam buku Bob Kauflin, seorang worship leader dan dosen praise & worship mengenai peranan seorang worship leader. Beliau menulis seperti ini:
An effective corporate worship leader, aided and led by the Holy Spirit, skillfully combines biblical truth with music to magnify the worth of God and the redemptive work of Jesus Christ,thereby motivating the gathered church to join him in proclaiming and cherishing the truth about God and seeking to live all of life for the glory of God.
(Seorang worship leader yang efektif, dengan pertolongan dan pimpinan Roh Kudus, dengan ahli memadukan kebenaran Alkitab dan musik, mengagungkan pribadi Tuhan, dan karya penebusan Yesus Kristus. Dengan begitu, dia memotivasi jemaat yang berkumpul untuk bergabung dengannya dalam memproklamasikan dan merayakan kebenaran Tuhan dan mengejar kehidupan yang memuliakan Tuhan)

Isn't that great? Menurut saya, definisi itu cukup mewakili karakteristik yang kita harus miliki sebagai seorang worship leader. Dari definisi Kauflin, seorang worship leader seharusnya memiliki kemampuan dan karakteristik sebagai berikut:

1.      Dituntun oleh Roh Kudus
This is so true! Tanpa Roh Kudus, maka pelayanan kita takkan berarti apa-apa, karena sesungguhnya, kita hanyalah bejana. God works through us by His spirit. Itu yang membuat kita berbeda. Awal kegagalan terbesar kita sebagai worship minister adalah ketika kita berpikir bahwa kita bisa mengandalkan kemampuan kita dan tak memerlukan Roh Kudus. Orang lain mungkin tidak bisa merasakannya, namun hati kita tidak akan bisa bohong. Kita tahu persis kapan pelayanan kita 'hidup' atau 'mati'. Spend some quality times everyday with the Lord. Ijinkan Roh Kudus bekerja dan memenuhi hidup kita.

2.      Memahami kebenaran Alkitab
Nah, kalo yang ini sepertinya kurang begitu populer..hehe..  Don't you know that a worship leader is also a preacher? Ya, bener banget! Kita adalah pemberita firman Tuhan melalui lagu-lagu yang kita nyanyikan. Don't miss this! Kadang jemaat malah lebih bisa mengingat lagu daripada khotbah, right? So, how come kita memberitakan firman Tuhan sementara kita sendiri tidak pernah belajar dan memahami kebenaran firman Tuhan? I'm not saying kalau kita semua harus sekolah Alkitab secara formal, (puji Tuhan kalo ada kesempatan), tapi kita semua harus belajar.
Lagipula, di jaman sekarang, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak bisa belajar dengan banyaknya sumber daya yang ada. Dari mulai Alkitab dengan berbagai bahasa dan versi (saya suka Amplified dan The Message), buku-buku rohani, website, blog (seperti yang ini, hehe..), video, dan lain-lain.Trust me, semakin dalam kita mengenal pribadi Tuhan lewat firman-Nya, semakin besar juga dampaknya bagi hidup kita dan pelayanan kita. Don't just read your bible, but you also need to learn, meditate, and do it.

3.      Punya kemampuan bermusik
Poin yang ini sepertinya cukup jelas. Seorang worship leader seharusnya punya kemampuan bernyanyi yang cukup baik. Adalah lebih baik jika seorang worship leader juga punya pengetahuan mengenai instrumen musik. Memang sih, secara musikal, mungkin banyak yang mengganggap bahwa memimpin pujian di gereja tidak membutuhkan kemampuan bermusik atau bernyanyi yang gimana banget. But, let's see it from a different view. Anggaplah bahwa keinginan kita untuk terus mengasah kemampuan kita adalah bagian dari ibadah dan penyembahan kita kepada Tuhan.
Jangan sampai keterbatasan skill kita menghalangi Tuhan untuk berkarya lebih besar lewat pelayanan kita. Apa maksudnya? Contohnya, ketika tim worship kita sedang mencoba menyanyikan lagu baru yang kita tahu akan memberkati jemaat; namun, ada beberapa bagian dari lagu tersebut yang membutuhkan kemampuan ekstra, sementara kita malas untuk meng-upgrade diri dengan berlatih. Akhirnya, terjadi kesalahan disana-sini saat membawakan lagu tersebut dan kita tahu kan apa yang akan terjadi?
So, please do yourself a favour: Belajar dan terus belajar.

4.      Punya Kemampuan Menjadi Motivator
Motivator adalah salah satu pekerjaan yang lagi nge-trend belakangan ini. Dengan speech-nya, dia bisa menggerakkan orang untuk menjadi lebih baik dalam pekerjaan maupun aspek lainnya. Jangan salah, seorang worship leader juga seharusnya bisa menjadi motivator bagi jemaat dan bagi tim worship yang dipimpinnya. Bagaimana caranya? Apakah kita harus belajar public speaking? Bukankah tugas kita lebih ke aspek musikal?
Oke, kalau kita mengartikan istilah motivator hanya secara sempit, memang tugas worship leader mungkin bukan seperti itu. Saya ingin mencoba mengartikannya secara luas. Kata dasar dari motivator adalah motive, yang menurut kamus bahasa Inggris berarti something that causes a person to act in a certain way, do a certain thing.
Dengan kata lain, motivator adalah seseorang yang menolong atau menggerakkan orang lain supaya mendapatkan alasan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Tugas worship leader adalah menggerakkan orang lain supaya mendapatkan alasan untuk menyembah Tuhan dan hidup bagi Tuhan. Ini adalah kemampuan yang harus kita pelajari.
Kita harus terus bertanya pada diri kita, jika saya hadir di gereja dan duduk sebagai jemaat, hal seperti apa yang akan menggerakkan saya untuk lebih sungguh-sungguh menyembah Tuhan? Pertanyaan kedua adalah, jika saya jemaat, apakah saya akan termotivasi dengan pelayanan worship leader yang seperti saya sendiri?

5. Punya kerinduan untuk menghidupi seluruh kehidupannya untuk kemuliaan Tuhan
Dari semua poin diatas, menurut saya, inilah yang paling penting. Seorang worship leader harus terlebih dulu menjadi seorang worshipper. Seorang worshipper adalah orang yang mempersembahkan seluruh tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, sebagai ibadah yang sejati (Roma 12:1). Ini ungkapan yang sering saya ingatkan pada diri saya sebagai worship leader, “Nyanyikanlah apa yang kita hidupi, dan hidupilah apa yang kita nyanyikan”
Mari kita terus belajar untuk menjadi worshipper dan worship leader yang baik. Saya berharap semoga bacaan ini dapat setidaknya memberikan gambaran bagi semua worship minister untuk lebih maksimal dalam pelayanan. Let our King be lifted up!

MENGAPA SEORANG SONG LEADER HARUS SEORANG WORSHIP LEADER
Seorang Song Leader bukan hanya sekedar seorang Pemimpin nyanyi-nyanyian dalam sebuah Kebaktian atau Ibadah, tetapi lebih dari itu seorang Pemimpin Nyanyi-nyanyian harus seorang PENYEMBAH dan PEMUJI / WORSHIP LEADER (WL).
Seorang Worship Leader bukan hanya seorang Pemimpin nyanyian yang trampil dan memiliki suara yang bagus, tetapi harus menjadi PENYEMBAH – PENYEMBAH yang dipanggil dan diurapi oleh Allah untuk melayani dalam rumah Tuhan / Gereja.
Mereka yang  terpanggil atau terlibat dalam Pelayanan Gereja bukanlah mereka yang  bermain musik atau bernyanyi, tetapi mereka yang  telah MENYERAHKAN DIRI untuk pelayanan Musik – Nyanyian untuk Tuhan (Mzm. 57 : 8 – 10; Mzm. 108 : 2 – 4)

TATA TERTIB WORSHIP LEADER & SINGER
Setiap WORSHIP LEADER DAN SINGER bertanggung jawab kepada Tuhan dan Gereja-Nya untuk melakukan tugas pelayanan yang Tuhan anugrahkan padanya.
Setiap WORSHIP LEADER & SINGER wajib mempersiapkan diri dengan baik untuk melayani Tuhan, diantaranya dengan cara :
1.      Persiapan Diri
Pelayan Tuhan wajib mempersiapkan keberadaannya untuk melayani di hadirat Tuhan yang kudus.
Membangun kehidupan rohani yang berakar, bertumbuh dan berbuah secara berkesinambungan.
2.      Persiapan Teknis
a)      Wajib mempersiapkan daftar lagu/pujian yang akan dinyanyikan, sebelum tugas pelayanannya.
b)      Wajib mengikuti latihan sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan.
c)      Wajib hadir sebelum Ibadah dimulai.
Bagi Setiap WORSHIP LEADER DAN SINGER yang dengan sengaja melanggar ketentuan-ketentuan diatas, berarti pelayan tersebut telah meremehkan HAK yang sudah diberikan oleh Tuhan dan mempermainkan tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap Tuhan dan Gereja.

v  KRITERIA SEORANG WORSHIP LEADER
1.      Kriteria Rohani
Lahir baru dan ada buah pertobatan.
Memiliki karakter Kristus.
Penuh Roh Kudus.
Seorang Penyembah Allah.
Suka Berdoa.
Dipenuhi Firman Allah.
Menguduskan perkataan, bersih dalam ucapan/nyanyian.
2. Kriteria Teknis
a)    Memiliki talenta vokal yang cukup baik.
b)   Mengerti dasar-dasar musik.
c)    Mampu memimpin.
d)   Mampu berkomunikasi dengan baik.
e)    Memiliki dan mengembangkan perbendaharaan lagu pujian.

v  PERSIAPAN SEORANG WORSHIP LEADER
1.      Persiapan Rohani
a)      Setia dalam waktu doa.
b)      Membaca Firman Tuhan.
c)      Penyembahan pribadi.
d)     Selalu menjaga kekudusan.
e)      Doa dan puasa secara khusus.
f)       Pemurnian motivasi, merendahkan diri.
2.      Persiapan Teknis
a)  Worship Leader harus mengetahui thema setiap nyanyian Pujian atau Penyembahan yang disusunnya.
b) Pemilihan lagu, apakah kita menguasai lagu tersebut? dan apakah jemaat mengenal lagu tersebut?
c)      Menjaga kualitas vocal, latihan pernafasan.
d)     Persiapan team, latihan bersama team musik & Singer.
e) Berapa waktu yang tersedia, termasuk kesaksian atau kata sambutan persembahan, pengumuman.
f)       Tingkat pengenalan atau penguasan Lagu.
g)      Kondisi atau keadaan Jemaat yang akan kita layani.
Ø  Kita mengenal dengan baik.
Ø  Cari informasi tentang usia mayoritas Jemaat.
Ø  Bagaimana karakter jemaat di tempat atau daerah tersebut.
Ø  Berapa jumlah jemaat yang ada.

3.      Bagaimana Fasilitas Tempat Dan Waktu
a)    Fasilitas penunjang (Sound system, musik, AC, dll).
b)    Kondisi tempat (besar / kecil).
c)    Waktu (pagi / siang / sore / malam).

HAL–HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SAAT MENJADI WORSHIP LEADER
1.     Bangun Komunikasi Yang Erat Dengan Jemaat Pada Kesempatan Pertama :
a)      Penuh kasih bukan dibuat-buat.
b)      Kata-kata pembuka yang mengakrabkan dan menguatkan.
c)      Pandangan mata dan senyuman.
2.    Hindari Kata-Kata Yang Melemahkan Dan Menghakimi Jemaat.
Memotivasi dan membangun jemaat dengan kata-kata yang positif, seperti :
Ø “Saya percaya Allah hadir di sini dan siap memberkati Saudara…”
Ø “Ada kuasa dalam hadirat Allah ……”
Ø “Saudara yang datang dengan masalah pasti akan pulang dengan  kelepasan ……”
Jangan menghakimi keterlambatan jemaat.
Jangan menghakimi cara jemaat memuji, jangan paksakan jemaat untuk sama seperti kita.
Gunakan kata-kata iman : “ Saya percaya ………”
3.        Persiapkan Penampilan Yang Baik :
a)      Pakaian rapi dan sopan.
b)      Rambut rapi.
c)      Wajah segar, cerah dan bersih.
4.   Hindari pertentangan dengan pemusik atau singers yang menimbulkan ketidak-sejahteraan suasana ibadah :
a)    Beri aba-aba atau komando yang jelas dan disertai dengan senyum.
b)   Kalau terjadi kesalahan, jalan terus (untuk membangun kepercayaan diri seluruh team).
c)    Ingat!  kita sedang menyembah dan memuji Allah, dan sedang membangun komunikasi yang akrab dengan Allah.

5.        Hindari pengulangan lagu terlalu banyak, yang dapat menjenuhkan.
6.    Fleksibel dalam memimpin dan peka terhadap kehendak Roh Kudus untuk suatu perubahan-perubahan sikap dan berbagai gaya dalam memimpin sehingga membawa suasana yang hidup,  meriah,  indah dan penuh kuasa Roh Kudus.
7.        Hindari banyak bicara,  komentar disaat lagu sedang dinyanyikan, sebaiknya gunakan kata-kata,  komentar-komentar yang tepat pada saat jeda lagu.
8.        Hindari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik :
a)    Terlalu sering menutup mata.
b)    Kebiasan gerakan tangan yang kurang baik.
c)    Membelakangi jemaat.
d)   Refleks mata berkedip-kedip.
9.        Jangan biarkan suasana vakum untuk beberapa waktu.
10.    Seringlah mengkoreksi penampilan saudara.
a)      Gaya di panggung, cara berdiri, gerakan tangan.
b)      Cara memegang microphone.
c)      Pengucapan istilah dan komentar
11.  Perhatikan nada dasar lagu yang PAS,  tidak ketinggian,  juga tidak kerendahan (perhatikan nada dasar Asli dari Pencipta Lagunya).
12.  Perhatikan “Intro” dan “Ending” setiap lagu, sehingga tepat dengan iramanya, juga pada saat “Interlude” jika ada.
13.    Pengulangan lagu yang wajar sesuaikan dengan situasi Jemaat.
14.    Kuasai Aba-aba (Hand Signals).

  • Nada dasar.
  • Pengulangan.
  • Overtone.
  • Perlambat / Percepat tempo.
  • Perkeras / perhalus suara.
  • Pengulangan coda.
  • Acapela.
  • Drums Only.
  • Piano / keyboards only.

 SINGER’S (1 Taw. 25 :  1 – 31)
Seorang Singer dalam ibadah haruslah seorang penyembah Allah (worshippers), sehingga persiapan seorang singer tidak hanya pada saat menjelang ibadah saja melainkan setiap saat membangun kehidupan penyembahannya.
Singer harus penuh Roh Kudus, agar ada URAPAN dalam pelayanannya, ia senantiasa mengandalkan Roh Kudus dan mempersiapkan dirinya untuk semakin peka dalam tuntunan dan pekerjaan Roh Kudus.
Singer haruslah seorang yang suka berdoa :
1.      Mempersiapkan diri dalam doa khusus bagi seluruh team yang ditunjangnya bagi umat yang dilayani.
2.      Berlatih khusus. memiliki kemauan kuat untuk meningkatkan “Skill”-nya

FUNGSI SINGER’S DALAM TEAM
1.      Memberi tenaga vokal (vocal power) pada setiap pujian yang dinaikkan.
2.      Memberi harmoni dan keindahan pada setiap pujian yang dinaikkan.
3.      Memberi inspirasi bagi jemaat dalam memuji Tuhan. Inspirasi dapat berupa :
Ekspresi atau mimic muka,  mata
Mengangkat tangan atau bertepuk tangan.
Gerakan atau tarian tertentu.
4.      Menopang pemimpin pujian dan pemusik melalui doa.

PEMUSIK
Dalam pelayanan musik, peran pemusik adalah mambawa suasana pemyembahan ke atmosfir yang penuh hadirat Allah dan membantu jemaat untuk mengangkat suara mereka dalam menyanyikan lagu.
Sebagai seorang pemusik, anda tidak dapat menghindari suatu kondisi di mana jemaat tidak memandang/melihat anda; dengan kata lain, anda pasti menjadi panutan/sorotan/contoh bagi jemaat. Menjadi seorang pemusik gereja merupakan panggilan yang luarbiasa. Jangan memandang rendah panggilan tersebut. Menjadi contoh berarti menjadi saksi hidup bagi orang lain. Carilah Tuhan tiap hari dalam saat teduhmu dan “BERDOA SEBELUM MEMAINKAN ALAT MUSIK”
Sebagai seorang pemusik, anda mungkin belajar sendiri atau pernah dilatih tetapi jangan memainkan alat musik melewati batas saat ibadah karena anda berada dalam satu tim musik. Jka ada suatu teknik atau permainan yang anda ingin tonjolkan maka gunakan pada saat berlatih sehingga permainan tersebut sempurna saat dibawa ke ibadah.
Juga sebagai seorang pemusik, anda pasti tidak pernah puas untuk mengetahui tentang musik. Tetaplah kejar suatu pelajaran yang baru. Tetap berlatih dan belajar.

TATA TERTIB WORSHIP PEMUSIK
Setiap PEMUSIK bertanggung jawab kepada Tuhan dan GerejaNya untuk melakukan tugas pelayanan yang Tuhan anugerahkan padanya.
Setiap WORSHIP LEADER & SINGER wajib mempersiapkan diri dengan baik untuk melayani Tuhan, diantaranya dengan cara:
1.        Persiapan Diri
a)    Pelayan Tuhan wajib mempersiapkan keberadaannya untuk melayani di hadirat Tuhan yang kudus.
b)   Membangun kehidupan rohani yang berakar, bertumbuh dan berbuah secara berkesinambungan.
2.        Persiapan Teknis
a)    Wajib mengikuti latihan sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan.
b)   Wajib hadir sebelum Ibadah dimulai.

 ASPEK TEKNIS PUJIAN PENYEMBAHAN
          Ada tiga jenis aspek dalam Teknis Pujian Penyembahan yaitu : Aransemen,Tema,dan Struktur Lagu.
1.        Aransemen adalah upaya kreatif menata dan memperkaya sebuah melodi,lagu,atau komposisi ke dalam format serta gaya yang baru.Mediumnya bisa apa saja ,dari instrument tunggal hingga sebuah orchestra. Pembuatan aransemen sering kali juga dipengaruhi oleh latar belakang dan jenis musik yang disukai oleh masing-masing pemain.Misal seorang pemain berlatar belakang musik Rock tentu akan membawa influence musiknya pada saat dia menciptakan sebuah aransemen.
2.    Tema adalah ide pokok dari sebuah komposisi yang nantinya dapat dikembangkan. Pastikan dalam menciptakan aransemen juga memperhatikan tema dari lagu tersebut.
3.   Struktur Lagu, terdiri dari :  Intro, Verse, Pre-Chorus, Chorus, Vamp, Bridge, Interlude, Coda, Ending.
Ø  Intro (Pembukaan lagu), pada bagian ini kita harus menentukan  tema lagu, chord, beat, dan melodi tema.
Ø  Verse(Bait),pada bagian ini sebaiknya semua instrument tidak bermain full,dengan dinamika yang tidak melebihi chorus.
Ø  Pre-Chorus(Jembatan menuju Chorus), pada bagian ini dinamika dibangun menuju chorus.
Ø  Chorus (Reffrain), pada bagian ini dinamika sudah diatas.
Ø  Vamp yaitu bagian pengulangan dari salah satu bagian lagu, atau menggunakan kata-kata dari lagu tersebut tetapi dibedakan nadanya.
Ø  Bridge yaitu pengulangan/penekanan kata tema yang sama.
Ø  Interlude dipakai apabila memang dibutuhkan  sebagai jembatan untuk mengulang tema lagu. Fungsinya adalah menghidari kemonotonan,memberikan variasi lagu, keindahan dan unjuk kebolehan dari pemain musik.Misalnya mengulang lagu secara instrumental, bisa juga dengan memainkan pattern chord/ketukan,dan salah satu instrument melakukan Adlib (solo), atau juga bisadengan membuat unison.
Ø  Coda yaitu ujung lagu yang diulang-ulang. Untuk variasi dapat juga dengan merubah progresi chord.
Ø  Ending yaitu musik penutup lagu.Bisa mengulang intro lagu menggunakan pattern chord,beat,atau unison.
TEKNIK INDIVIDUAL
Teknik Individual ada 2 macam yaitu Vocal dan Worship Leader.
1.        Vocal
Vocal, Ada 2 jenis suara manusia yaitu Wanita dan Pria. Suara Wanita terdiri dari Sopran, Mezzo Sopran, dan Alto,  sedangkan suara Pria  terdiri dari Tenor, Bariton, Bass. Sedangkan suara manusia ada 2 macam yaitu Chest voice dan Head voice
Dalam Teknik Vokal dikenal beberapa macam istilah seperti : Pitch Control, Breath Control, Power, Articulation, Interpretation, Improvisation, Rhythm.
Ø  Pitch Controladalah ketepatan dalam menyanyikan nada (pitch). Setiap nada berada pada frekuensi tersebut. Contohnya nada A berada pada frekuiensi 440Hz. Dalam bernyanyi,seseorang harus dapat menyanyikan nada dengan tepat di frekuensi nada tersebut. Jadi Pitch Control adalah  kemampuan untuk menyesuaikan nada dengan dengan suara kita.
Ø  Breath Control dalam bernyanyi,pernafasan menjadi suatu hal yang penting,dan patut dipelajari  walaupun sebenarnya pernafasan adalah suatu hal yang dialami.Pernafasan sendiri dibagi menjadi 3 yaitu : Pernafasan dada,pernafasan perut,dan pernafasan diafragma.
Ø  Power  untuk menyanyikan sebuah lagu dengan baik,salah satu hal yang mempengaruhi adalah Power,atau kekuatan suara.Biasa juga dikenal dengan dinamika,yaitu besar kecilnya suara yang dihasilkan untuk menambah suasana yang diinginkan dari sebuah lagu.
Ø  Articulationadalah cara melafalkan kata dalam sebuah lagu.Dalam bernyanyi,seringkali cara melafalkan lirik diabaikan.Pada kenyataannya saat sebuah lirik tidak diucapkan dengan benar, pesan yang terdapat pada lagu tersebut tidak dapat tersampaikan dengan baik.Oleh karena itu artikulasi menjadi salah satu poin yang penting.
Ø  Interpretation bagaimana menginterpretasikan sebuah lagu sesuai dengan lirik di lagu tersebut. Dalam setiap lagu pasti ada pesan yang disampaikan saat kita menyanyikannya,kita harus dapat mengartikannya dengan cepat. Contohnya lagu yang mengungkapkan ucapan syukur,sebaiknya jangan dinyanyikan dengan mimik yang sukacita, nada yang lebih ceria dan lain-lain.
Ø  Improvisation adalah pengembangan gaya bernyanyi berdasarkan melodi awal.Ada kalanya dalam menyanyikan sebuah lagu, lagu tersebut dapat dinyanyikan tidak persis sama dengan melodi awalnya, tapi dikembangkan. Pengembaangan tersebut yang dinamakan improvisasi.
Ø  Rhytym adalah jenis irama musik yang mempengaruhi gaya bernyanyi.
2.        Worship Leader
Tugas seorang Worship Leader adalah sebagai Pembajak hati, Pemberita, MC, Pemimpin Pemandu Sorak Bagi Tuhan.
Ø  Pembajak Hati, pernahakah anda melihat seorang pembajak sawah?? Dengan menggunakan bajak,air,dan kerbau dia mengubah tanah yang keras menjadi lembut dan siap ditanami.Hati manusia itu sama seperti tanah.Ketika merekan datang ke tempat ibadah,kita tidak tahu yang ada di dalam hati mereka.Salah satu tugas Worship Leader adalah untuk membajak hati yang keras untuk dilembutkan dan siap menerima firman Tuhan.
Ø  Pemberita,Musik adalah alat komunikasi.Tidak ada lagu yang tidak mengandung pesan,oleh karena itu tugas seorang Worship Leader adalah menjadi pemberita kebenaran firman Tuhan lewat lagu-lagu yang dinyanyikan.Bahkan,bukan tidak mungkin bahwa apa yang dinyanyikan oleh tim pemuji akan memperkuat pesan firman Tuhan yang dibawakan pengkhotbah.
Ø  MC, mohon diingat, Worship Leader bukan sekedar bernyanyi,tetapi juga memandu jalannya ibadah layaknya seorang MC.Bagaimana anda berpindah dari satu lagu ke lagu lain,bagaimana anda menyusun following sebuah ibadah,kapan suasana harus dibuat khusyuk,kapan harus dibuat gegap gempita,semua itupun harus diperhatikan.
Ø  Pemimpin Pemandu Sorak Bagi Tuhan, pernah meluhat Cheerleaders bearksi?? Ketika mereka melakukan aksinya dari pinggir lapangan untuk mendukung tim kesayanganny, penonton pasti akan terpancing dan ikut terbakar untuk juga bersorak-sorai dan menyemangati timnya.Itulah tugas Worship Leader, memimpin jemaat untuk memberikan pujian yang terbaik bagi Tuhan.Jika anda meminta jemaat bertepuk tangan, itu berarti anda haruslah menjadi yang paling semangat dalam bertepuk tangan terlebih dulu.Jika anda meminta jemaat bersorak-sorai, anda haruslah menjadi orang yang paling keras bersorak-sorai.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang Worship Leader antara lain: Opening, Body language, Bermazmur, Transisi Antar Lagu, Tempo.
Ø  Opening, bisa dilakukan dengan speech, musik pengiring, bernyanyi solo, atau speech dengan interactive action. Andapun dapat menggabungkan dua atau tiga jenis opening ini dalam sebuah ibadah.
Ø  Body Language, bisa dilakukan dengan Eye Contact, Ekspresi Wajah, atau gerakan tubuh, tangan, kaki. Hal ini akan dapat memperkuat ingatan jemaat kepada pesan lagu yang disampaikan.
Ø  Bermazmur, dalam bahasa sederhana bermazmur artinya menyanyikan pujian bagi Tuhan.Dalam ibadah saat ini ,bermazmur adalah saat dimana sebuah lagu pujian telah memcapai ending dan kemudian ada musik pengiring dimana Worship Leader harus mengisi bagian tersebut dengan kata-kata pujian dan mazmur. Dalam sebuah , kemampuan bermazmur sangatlah penting. Di momen inilah biasanya kehadiran Tuhan dinyatakan. Kemampuan bermazmur akan sangat dipengaruhi oleh 2 hal yaitu: musikalitas dan kepekaan terhadap suara Tuhan.
Ø  Transisi Antar Lagu (Transition Between Song), untuk membuat sebuah transsisi yang baik, hindarilah menyusun dua lagu yang nada dasarnya sangat berbeda secara berurutan, terurama pada lagu yang bertempo lambat. Mengapa?? Karena jika tim musik kita tidak hati-hati, maka transisinya tidak akan smooth dan bahkan bisa saja menggangu jemaat.
Ø  Tempo, sebagian besar orang pasti sudah tahu apa itu yang dinamakan Tempo. Yaitu cepat lambatnya ketukan dalam sebuah lagu. Ukurannya adalah bpm (beat per minute). Nah, untuk transisi antar lagu lambat, usahakanlah untuk membuat temponya naik atau sama namun dengan dinamika yang naik (dinamika: keras lemahnya bunyi). Hal yang sama juga berlaku pada lagu cepat.Butalah supaya temponya naik, jangan seebaliknya. Atau, hindari juga loncat chord yang terlalu jauh.

  1. Persiapkan Lagu Pujian Penyembahan yang mau sahabat bawakan
  2. Pilih lagu yang benar-benar sahabat kuasai (jangan coba lagu baru jika belum siap)
  3. Doakan lagu pujian yang sudah di dapat dan minta pertolongan Tuhan
  4. Cari di Google Lirik dan Donlowad Lagunya untuk melatih suara dan menghapal Lirik lagu yang benar (Supaya tidak salah Lirik)
  5. Persiapan untuk menghapal Lirik Lagu (Persiapan) minimal 1 minggu
  6. Lakukan Komunikasi dengan Tim Musik tentang lagu lagu yang akan di bawakan (Jangan sampai Tim Musik tidak dapat memainkan musiknya untuk lagu tersebut)
  7. Latihan dengan Tim Musik minimal 2 x seminggu
  8. Jangan makan Gorengan atau makan makanan yang mengandung santan (akan mengangu tengorokan sahabat nantinya, ini pengalaman saya) dan perbanyaklah minum Air Putih atau biasa saya minum C1000 hehehe
  9. Jangan gelisah dan berikan ketenangan hati untuk melayani, Fokus pada Tuhan dan Lakukanlah.

Saat persiapan sudah matang dan saatnya Pelayanan menjadi Worship Leaderpun dilakukan, berikut adalah hal-hal yang saya lakukan menurut tata Ibadah di Gereja Saya :
  1. Ucapkan sepatah kata untuk memulai Ibadah
  2. Lagu Pembuka adalah bernyanyi, Lakukan dengan tenang karena lagu Ibadah harus dinikmati karena Gereja akan mengikuti Iramanya, membuat jemaat berdiri ketika ayat kedua sedang bernyanyi, setelah selesai mulai beribadah dalam bahasa roh, menyesuaikan diri dengan gereja-gereja gereja. . Berusahalah untuk beribadah dalam bahasa lidah harus mengimbangi suara musik dan memberikan beberapa ayat Alkitab sehingga jemaat akan menikmati Kehadiran Tuhan.
  3. Pujipun lagu dimulai, sebelum itu bagus untuk melakukan gaji kepada jemaat, Misalkan: Syallom ... (Itu yang biasa saya lakukan). Lagu Pujian ke-1, ke-2, ke-3 dalam tempo musik, First Praise Songs memberikan tempo musik yang lambat atau sedang dan Lagu Pujian Kedua menyanyikan Lagu Tempo yang berakselerasi lebih cepat dan agar jemaat lebih bersemangat dalam memuji Tuhan.
  4. Selesaikan nyanyian Pujian maka sudah saatnya memberikan kesempatan bagi jemaat yang menyembah menyaksikan (Sesuaikan dengan Kondisi ibadah) menyanyikan Reffnya hanya untuk lagu Pujian Nyanyikan Pujian Terakhir.
  5. Pujian Ibadah untuk Firman Tuhan tidak jauh berbeda dengan Lagu Pembukaan, Lakukan dengan tenang dan masuki Hadirat Tuhan. Seorang Pemimpin Ibadah harus mengendalikan keadaan, ada saatnya seorang teman harus membuka mata untuk melihat bagaimana keadaan gereja, jika masih dalam kondisi menikmati Pujian Ibadah memberikan ibadah lagi tetapi tidak terlalu lama.
  6. Firman Tuhan dilakukan kadang-kadang Gembala membawa Puji pertama tetapi beberapa langsung diserahkan kepada WL, teman yang baik harus mempersiapkan lagu Ibadah tambahan untuk mengantisipasinya.
  7. Lagu untuk Kolekte dilakukan dengan penuh sukacita, karena sambil membawa persembahan harus membawa jemaat dalam suasana sukacita, sehingga persembahannya banyak hehehe (Banyak memberi banyak berkah).
  8. Doa Syafaat pilih dari para penatua Majelis yang menurut teman-teman biasa melakukan Syafaat di gereja, jangan memilih ya.
  9. Pengumuman gereja dibacakan oleh seorang Lieder Ibadah atau Petugas yang membawa Pengumuman.
  10. Saatnya beribadah sampai akhirnya menyanyikan Pujian Ibadah Reffnya saja (Itulah yang biasa saya lakukan) Reffnya diulang sebanyak 2 kali dan mengajak Gembala untuk berdoa Penutup (Doa Berkah).
  11. Lagu cover masih dengan lagu yang sama, hanya dinyanyikan Reffnya 1 kali saja.

Itu dari cerita kecil saya untuk menambah pengalaman teman-teman dalam melayani Tuhan untuk menjadi  Worship Leader di Gereja yang baik dan benar di hadapan Tuhan. Terima kasih untuk Tuhan Yesus, Orang Tua Saya, Istri Saya, Putraku dan Para Sahabat Gereja yang selalu mendukung untuk melakukannya, Tuhan Yesus memberkati.

Sekian dan terimakasih......:)

Dari kisah pribadi saya di atas, akan sulit bagi seorang teman untuk memahami apa yang saya lakukan dari awal sampai saya bisa menjadi Loyalitas Ibadah yang baik. di sini adalah urutan yang saya lakukan untuk menjadi Pemimpin Ibadat yang Baik: