Skip to main content

PENGERTIAN KARANGAN NARASI, CIRI CIRI, JENIS JENIS DAN CONTOHNYA

Karangan Narasi dalam Bahasa Indonesia – Pengertian dan Contohnya –Setelah membahas jenis-jenis esai, pada kesempatan ini kita akan fokus pada satu jenis esai, yaitu esai naratif. Pembahasan esai naratif akan diuraikan secara rinci mulai dari pemahaman esai naratif, sifat, jenis, langkah menulis, dan contoh esai naratif. Selamat mendengarkan!


Pengertian Karangan Narasi

Narasi merupakan suatu cara pengembangan paragraf yang dirangkai sesuai kronologinya dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Sehingga karangan narasi adalah tulisan atau karangan yang dikemas sesuai kronologi waktu dari awal, tengah, dan akhir. Karangan narasi lebih condong kepada tujuan untuk memperluas wawasan dan menghibur pembaca. Cerita yang disampaikan dalam karangan narasi melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut adalah orientasi, klimaks, reorientasi, konflik, dan penyelesaian masalah. Jenis karangan narasi banyak ditemukan di novel, prosa, cerpen, dan roman.

Jenis Jenis Karangan Narasi

Karangan narasi dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu karangan narasi informatif/ekspositoris, narasi artistik, dan narasi sugestif. Untuk lebih memahami setiap jenis karangan narasi tersebut, berikut ulasannya.

Narasi Artistik
Poin utama dalam jenis karangan artistik adalah adanya pengalaman estetis pada pembaca. Kisah yang diceritakan dalam narasi artistik dapat berupa karangan fiksi ataupun non fiksi. Bahasa yang digunakan juga dapat disisipi dengan kiasan. Kiasan-kiasan yang digunakan dalam cerita inilah yang dapat memberikan pengalaman estetik kepada para pembaca.

Narasi Sugestif
Sugestif berhubungan dengan pengaruh yang dapat diberikan kepada orang lain. Karangan narasi sugestif biasanya digunakan untuk membuat pembacanya menjadi terpengaruh dan menuju ke arah yang lebih baik. Contoh karangan sugestif terdapat pada cerpen (cerita pendek), novel, atau cerita bersambung.

Narasi Informatif/Ekspositoris
Karangan narasi informatif bertujuan untuk menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa. Jenis karangan ini juga bertujuan untuk memperluas pengetahuan pembaca tentang kisah seseorang. Dalam penyusunan karangan narasi informatif, penulis harus menggunakan data berdasarkan fakta dan menggunakan bahasa yang logis. Contoh karangan ekspositoris adalah biografi dan kisah pengalaman.

Ciri Ciri Karangan Narasi

Sebuah tulisan yang termasuk ke dalam karangan narasi memuat ciri-ciri berikut:

  • Isi karangan disampaikan berdasarkan kronologi kejadian
  • Terdapat konflik dalam cerita disajikan
  • Terdapat unsur-unsur karangan yaitu latar, setting, karakter, tema, dll.
  • Karangan narasi biasanya memuat hiburan untuk pembaca
  • Memuat nilai estetika di dalam ceritanya
  • Karangan narasi berisi cerita atau peristiwa tertentu

Langkah Penulisan Karangan Narasi
Pengertian, ciri-ciri dan jenis karangan narasi sudah dipaparkan. Agar lebih jelas, informasi selanjutnya yang perlu diketahui adalah tentang langkah menyusun atau menulis sebuah karangan narasi. Berikut adalah langkah-langkah dalam menulis karangan narasi:

1. Susun Tokoh dan Perwatakan

Setelah ketiga langkah di atas, jangan lupa untuk menentukan tokoh-tokoh yang akan digunakan dalam karangan. Tokoh utama ataupun tokoh pendamping dengan perwatakannya masing-masing.

2. Lengkapi dengan 5W1H

Prosedur terakhir agar penulisan karangan lebih mudah adalah dengan menuliskannya dalam 5W1H. 5W1H berisi tentang pokok-pokok utama yang dijadikan patokan dalam penulisan karangan. Berikut adalah penjelasan tentang 5W1H:

  1. What, tentang apa yang diceritakan dalam karangan tersebut
  2. When, tentang waktu terjadinya cerita tersebut
  3. Where, tentang dimana lokasi cerita dalam karangan tersebut
  4. Who, tentang siapa pelaku cerita dalam karangan
  5. Why, tentang alasan cerita dalam karangan tersebut terjadi
  6. How, tentang bagaimana uraian cerita tersebut

3. Penentuan Tema dan Amanat

Sebelum menulis sebuah karangan, baik itu jenis karangan narasi atau jenis karangan lainnya, tema dan amanat sangatlah penting dilakukan. Tema dan amanat yang akan disampaikan melalui karangan tersebut akan membantu penulis untuk mencegah pembahasan menjadi melebar. Misalnya untuk karangan ekspositoris, tema yang dapat dipilih adalah tentang biografi seorang tokoh terkenal atau tokoh tertentu. Maka nantinya pembahasannya hanya tentang tokoh tersebut.

4. Penentuan Sasaran Pembaca

Siapakah sasaran pembacanya? Apakah anak-anak atau dewasa. Sasaran pembaca yang berbeda akan menentukan bahasa yang digunakan. Jika sasaran pembacanya adalah anak-anak maka bahasa yang digunakan sebaiknya tidak terlalu kaku. Hal ini agar pembaca (anak-anak) tidak merasa bosan. Sebaliknya jika sasaran pembacanya adalah orang dewasa maka bahasa yang digunakan dapat lebih luwes.

5. Penentuan Skema Alur

Skema alur dalam karangan harus direncanakan dengan jelas. Pola karangan narasi memiliki susunan dengan urutan bagian awal – tengah – akhir. Bagian awal biasanya berisi tentang pengantar. Pengantar ini berisi tentang situasi dan tokoh-tokoh yang ada dalam karangan. Bagian awal sebaiknya dibuat semenarik mungkin sehingga pembaca merasa tertarik untuk membaca di bagian selanjutnya.

Bagian tengah berkaitan dengan konflik dalam cerita. Konflik  dapat dimunculkan lebih dari satu dalam sebuah karangan. Konflik akan mengarah menuju klimaks dan selanjutnya mereda. Bagian akhir berisi tentang akhir dari cerita. Ada akhir cerita yang dibuat secara singkat, panjang, atau terkadang dibuat menggantung.

Contoh Karangan Narasi

1. Contoh Karangan Narasi Sugestif

Hari itu adalah hari terakhir libur sekolah. Pak Anwar terus menyusuri tepian jalan raya menjajakan kursi bambu buatannya. Ia terus berharap ada seorang yang tertarik untuk membeli kursi bambu yang ia bawa. Hari itu pak Anwar sangat membutuhkan uang.

Sudah hampir seminggu Pak Anwar berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk menjual kursi bambu. Sejak pagi ia sudah mengumpulkan semangat agar bisa mendapatkan uang dari hasil penjualan kursi bambu tersebut. Pak Anwar ingin membelikan peralatan sekolah yang baru untuk putra satu-satunya.

Namun di hari ketujuh, belum ada orang yang berminat membeli kursi bambunya tersebut. Pak Anwar hampir putus asa. Ia memikirkan bagaimana kecewanya putranya nanti ketika tidak mendapatkan peralatan sekolah yang baru. Pak Anwar memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah masjid. Sholat hajat ia tunaikan, berharap ada keajaiban di hari itu.

Keyakinannya akan pertolongan Illahi membuatnya tetap tegar. Dan tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. “Permisi Pak, berapa harga kursi bambu itu?”, tanya seorang lelaki setengah baya yang berpakaian koko. Pak Anwar sangat terkejut. Lelaki itu melanjutkan pertanyaannya, “Bolehkah saya borong kedua kursi ini seharga Rp 1.500.000?”. Pak Anwar masih terdiam. Dan dengan terbata-bata ia menjawab, “Sa..sa..sangat boleh Pak. Terima kasih sekali”. Pak Anwar sangat senang dan tidak henti-hentinya mengucap syukur. Ia sangat senang akhirnya bisa membelikan peralatan sekolah untuk putranya.


2. Contoh Karangan Narasi Artistik

Kala itu sang mentari telah berada di tahta tertingginya. Terik matahari seperti mengeringkan setiap tenggorokan penghuni hutan. Kancil mengayuhkan kaki-kaki kecilnya sembari mencari pelepas dahaga. Tak dikira terlihat rambutan ranum  di pinggir sungai.

Pada saat sang kancil hendak melangkahkan kaki melewati sungai, terlihat ada segerombolan buaya yang sedang berenang tenang. Dengan sangat ketakutan dan rasa was-was, kancil pun bersembunyi sembari mencari akal. “Bagaimana aku bisa melewati sungai tanpa dimakan buaya?” pikir kancil.

Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benak kancil. “Buaya…buaya…aku membawa perintah dari Raja Sulaiman untuk kau semua” teriak kancil di pinggir sungai. Satu per satu buaya mulai menampakkan diri mereka. Salah satu buaya menjawab, “Apa perintah Raja Sulaiman untuk kami?”. Kancil segera menjawab, “Kalian diperintahkan menghadap ke Raja Sulaiman, beliau ingin memberi hadiah kalian masing-masing satu ekor kerbau. Tetapi aku harus menghitung dahulu jumlah semua buaya di sungai ini”.

Mendengar kabar tersebut,  semua buaya sangat senang. Kancil lalu menimpali lagi, “Nah, sekarang kalian harus berbaris rapi karena aku harus menghitung kalian semua”. Tanpa berpikir panjang, semua buaya langsung berbaris. Dengan mudah kancil melewati setiap buaya sambil berpura-pura berhitung. Hingga sampailah kancil di tepi sungai yang lain dan berhasil mendapatkan buah rambutan yang ranum.

3. Contoh Karangan Narasi Informatif/ Ekspositoris

Sesuai dengan namanya, serangan umum 1 Maret terjadi pada tanggal 1 Maret tahun 1949. Serangan ini terjadi di ibu kota Indonesia pada saat itu yaitu Yogyakarta. Serangan umum 1 Maret dimulai tepat pukul 6 pagi pada 5 sektor di wilayah Yogyakarta.

Serangan umum 1 Maret dilakukan oleh jajaran tinggi militer Divisi III/GM III. Serangan ini bertujuan untuk merebut kembali kota Yogyakarta. Makna lain dari serangan ini adalah menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih kuat dan mempunyai kekuatan yang besar untuk melakukan perlawanan.

Dalam serangan umum 1 Maret ini, Letkol Soeharto memimpin pasukan sektor barat sampai Malioboro. Ventje Sumual memimpin sektor timur. Mayor Sardjono memimpin sektor selatan, Mayor Kusno memimpin sektor utara. Sedangkan sektor kota dipimpin oleh letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki. Ketika serangan ini, Yogyakarta berhasil diduduki selama 6 jam, dan tepat pukul 12.00 semua pasukan  TNI mundur.

Sekian pembahasan mengenai karangan narasi dalam bahasa Indonesia – pengertian dan contohnya. Semoga pembahasan mengenai karangan narasi ini mudah dipahami dan bermanfaat untuk pembaca sekalian. Nantikan artikel dengan pembahasan lainnya. Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar