--> Skip to main content

Perkembangan Anak Usia Dini dan Permasalahannya

Anak Usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-8 tahun. Para ahli memandang masa usia dini adalah masa yang paling fundamental bagi perkembangan anak selanjutnya. Selain itu, pada masa ini juga dipandang sebagai masa keemasan atau Golden Age , masa sensitif atau masa peka, masa inisiatif dan berprakarsa, serta masa pengembangan diri. Disini perlu adanya stimulasi yang bermakna agar anak dapat berkembang optimal.

Aspek perkembangan pada anak terkait pada perkembangan fisik-motorik, kognitif, bahasa, nilai-nilai dan moral agama, seni dan sosial-emosional. Aspek-aspek perkembangan ini tidak berkembang sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi menjadi satu kesatuan. Apabila satu aspek mengalami hambatan maka akan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Berikut ini akan kita bahas bersama aspek-aspek perkembangan anak tersebut satu persatu.

1. Perkembangan Fisik-Motorik
Yang pertama adalah aspek perkembangan fisik-motorik. Dimana pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu sama, ada beberapa anak yang mengalami pertumbuhan secara cepat, dan ada pula yang mengalami kelambatan. Pada usia yang sama juga kadang kita temukan satu anak memiliki badan yang tinggi dan anak lainnya lebih pendek.

Pada masa usia dini, pertumbuhan tinggi dan berat badan relatif seimbang, tetapi secara bertahap tubuh anak akan mengalami perubahan. Apabila dimasa bayi anak memiliki penampilan yang gemuk maka secara perlahan tubuhnya akan berubah menjadi lebih langsing, sedangkan kaki dan tangannya mulai memanjang. Selain berubahnya berat dan tinggi badan, anak juga mengalami perubahan fisik secara proporsional. Perubahan proporsi tubuh mempunyai irama pertumbuhan sendiri, ada yang tumbuh cepat dan ada pula yang lambat, namun semuanya akan mencapai taraf kematangan ukuran tepat pada saatnya.

Seiring dengan perkembangan fisik yang beranjak matang, perkembangan motorik anak juga sudah dapat terkordinasi dengan baik. Jika pada usia 1 tahun anak ada yang belum terampil berjalan, maka pada usia 2,5 tahun anak umumnya sudah dapat berlari, melompat, menendang bola, dan memanjat. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas. Anak cenderung menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang cukup gesit dan lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis, berenang, main bola dan atletik.

2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif menyangkut perkembangan berfikir dan bagaimana kegiatan berfikir itu bekerja. Dalam kehidupannya, mungkin saja anak dihadapkan pada persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan  persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesainnya.

Faktor kognitif mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan anak  dalam belajar karena sebagian besar aktifitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir. Perkembangan struktur kognitif berlangsung menurut urutan yang sama bagi semua anak. Setiap anak akan mengalami dan melewati setiap tahapan yang oleh Piaget, tahapan ini disebut asimilasiakomodasi dan ekuilibrium.

Asimilasi merupakan proses dimana stimulus baru dari lingkungan diintegrasikan pada pengetahuan yang telah ada pada diri anak. Proses ini dapat diartikan sebagai suatu objek atau ide baru ditafsirkan sehubungan dengan gagasan atau teori yang telah diperoleh anak. Akomodasi merupakan proses yang terjadi apabila berhadapan dengan stimulus baru. Akomodasi merupakan proses pembentukan pengetahuan baru atau perubahan pengetahuan yang telah ada. Asimilasi dan akomodasi berlangsung terus menerus sepanjang hidup anak, dan untuk melakukan penyeimbangan maka pada diri anak terjadi apa yang disebut ekuilibrium. Ekulibrium merupakan suatu keadaan yang seimbang dimana anak tidak perlu lagi merubah hal-hal yang ada di sekelilingnya untuk mengadakan asimilasi dan juga tidak harus mengubah dirinya untuk mengadakan akomodasi dengan hal-hal yang baru.

Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada anak terjadi dalam empat tahap, yaitu sebagai berikut;
  1. Tahap sensorimotorik (lahir-2 tahun)
  2. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
  3. Tahap operasional konkrit (7-11 tahun)
  4. Tahap operasional formal (11-16 tahun)
3. Perkambangan Bahasa
Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar atau lukisan. Menurut Miller, bahasa adalah suatu urutan kata-kata, bahasa juga dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai tempat atau waktu yang berbeda.
Pada usia 4-6 tahun, kemampuan berbahasa anak akan berkembang sejalan dengan rasa ingin tahu serta sikap antusiasme yang tinggi, dan sejalan pula dengan meningkatnya kemampuan berbahasa anak, anak akan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan baik pada orang tua maupun pada guru-gurunya. Kemampuan berbahasa  anak juga akan terus berkembang sejalan dengan intensitas anak bergaul dengan teman sebayanya.
Pada usia antara 5 dan 6 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari enam sampai delapan kata. Mereka juga sudah dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dan mengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, kata depan, dan kata sandang. Dan pada masa akhir usia prasekolah anak pada umumnya sudah mampu berkata-kata dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukan kesalahan berbahasa.
4. Perkembangan Sosial Emosional
Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Menurut Dini. P Daeng S. Ada 4 faktor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi, yaitu sebagai berikut;
  1. Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang disekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang.
  2. Adanya minat dan motivasi untuk bergaul
  3. Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain yang biasanya menjadi "model" bagi anak
  4. Kemampuan sosialisasi dapat pula berkembang melalui cara "coba-salah" (trial and error) yang dialami oleh anak
  5. Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978) untuk menjadi orang yang mampu bersosialisasi, memerlukan 3 proses, dimana masing-masing proses  terpisah dan sangat berbeda satu sama lain akan tetapi saling berkaitan. Kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasinya. Ketiga proses sosialisasi tersebut adalah;
  1. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial
  2. memainkan peran sosial yang dapat diterima
  3. Perkembangan sikap sosial
5. Perkembangan Emosi Anak
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang sifatnya disadari. Daniel Goleman (1995) merumuskan emosi sebagai suatu yang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Perkembangan emosi muncul lebih awal dari perkembangan sosial maupun kognitif. Pada masa bayi, kemampuan ini merupakan alat untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. 
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:94) emosi anak memiliki karakteristik sebagai berikut;
  1. Emosi yang kuat
  2. Emosi seringkali tampak
  3. Emosi bersifat sementara
  4. Reaksi emosi mencerminkan individualitas
  5. Emosi berubah kekuatannya
  6. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku
Pada usia dini, emosi anak mulai matang. Anak mulai menyadari akibat-akibat dari tampilan emosinya. Anak mulai memahami perasaan orang lain, misalnya bagaimana perasaan orang lain apabila disakiti maka anak belajar mengendalikan emosinya. 
6. Perkembangan Seni
Aspek perkembangan seni anak adalah suatu aspek yang kadang terlupakan, padahal melalui seni anak dapat mengembangkan beberapa aspek perkembangan lainnya seperti menyanyi sambil belajar huruf dan angka untuk membantu mengembangkan aspek perkembangan kognitif atau menggunting, menggambar dan menari untuk mengembangkan aspek perkembangan kognitif, fisik, dan motorik anak. Kemampuan anak usia dini untuk merasakan dan melakukan berbagai keterampilan atau kemampuan seninya dapat ditimbulkan dan dikembangkan sejak dini melalui pelatihan dan bimbingan yang terarah sambil disesuaikan dengan karakteristik belajar anak usia dini yaitu bermain.
7. Perkembangan Nilai-nilai Moral dan Agama
Aspek perkembangan nilai-nilai dan moral agama memang harus ditanamkan sejak anak usia dini karena kemampuan ini dapat berkembang melalui pembiasaan. Aspek ini juga dapat bekembang dengan baik jika anak mendapat contoh dan arahan dari orang terdekatnya karena aspek perkembangan ini juga membutuhkan model dan pembiasaan yang baik dan terus menerus.      

Permasalahan Perkembangan Anak Usia Dini

1. Permasalahan dalam Perkembangan Fisik-Motorik
Menurut Rusda Koto dan Sri Maryati (1994) dalam perkembangannya, mungkin ditemukan beberapa hambatan pada anak diantaranya adalah sebagai berikut;
  • Gangguan fungsi panca indera
  • Cacat tubuh
  • Kegemukan
  • Gangguan gerak peniruan (stereotipik)
2. Permasalahan dalam Perkembangan Kognitif
Kemampuan kognitif anak harus dikembangkan secara optimal karena menyangkut kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari anak. Dalam perkembangannya, ditemukan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak diantaranya anak sulit mengerti apabila dijelaskan tentang sesuatu, lambat dalam mengerjakan sesuatu, atau keliru dalam menyelesaikan persoalan dan sulit berkonsentrasi. Permasalah kognitif dapat juga menyangkut intelegensi yang rendah atau yang disebut dengan retardasi mental (lemah mental) yang dibagi menjadi 3 golongan yaitu;
  1. Ringan dengan IQ 50-70
  2. Sedang dengan IQ 35-49, dan
  3. Berat dengan IQ 20-34
3. Permasalahan dalam Perkembangan Bahasa
Ketidakmampuan anak berkomunikasi secara baik karena keterbatasan kemampuan menangkap pembicaraan anak lain atau tidak mampu menjawab dengan benar adalah permasalahan dalam perkembangan bahasa. Selain itu, masalah perkembangan bahasa terkait dengan terbatasnya perbendaharaan kata anak atau adanya gangguan artikulasi seperti sulit mengucapkan huruf r, sy, l, f, z, s atau c. 

4. Permasalahan dalam Perkembangan Sosial
Tidak semua anak mampu bersosialisasi. Beberapa masalah sosial yang sering dialami anak adalah anak ingin menang sendiri, sok berkuasa, tidak mau menunggu giliran, selalu ingin diperhatikan, memilih-milih teman, agresif dengan cara menyerang orang atau lain, merebut mainan, merusak barang miliki teman yang lain dan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

5. Permasalahan dalam Perkembangan Emosi
Pada umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena pada usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Ekspresi emosi pada anak mudah berubah dengan cepat dari bentuk ekspresi ke bentuk ekspresi emosi yang lain. Rangsangan yang sering membangkitkan emosi anak adalah keinginan yang tidak terpenuhi. Beberapa masalah dalam perkembangan emosi anak yang sering ditemui adalah perasaan takut, cemas, sedih, marah yang berlebihan, iri hati, cemberut dan mudah tersinggung


Sumber Artikel: http://www.ipapedia.web.id/2015/12/perkembangan-anak-usia-dini-dan.html
Mungkin Anda Suka
Buka Komentar
Tutup Komentar