Minggu, 29 Mei 2016

Interaksi Manusia dengan Budaya Karapan Sapi di Madura

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
 Untuk menambah wawasan kepada siswa tentang budaya yang ada di negara Indonesia termasuk budaya karapan sapi yang berasal dari daerah madura.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Apakah masyarakat Indonesia masih mengembangkan kebudayaan karapan sapi sampai saat ini?
 1.3 TUJUAN
Agar siswa mau mengembangkan budaya karapan sapi tersebut dan mengajarkan kepada orang banyak
1.4 METODE PENGUMPULAN DATA
   Data diperoleh dari proses studi pustaka dan pencarian internet
1.5 SISTEMATIKA PENULISAN
Laporan ini terdiri dari:
1. BAB I
2. BAB II
3. BAB III


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN

Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.
Karapan sapi dikritik berbagai pihak seperti Majelis Ulama Indonesia dan pemerintah daerah di Madura karena tradisi kekerasan rekeng yang dilakukan pemilik sapi. MUI Pamekasan sudah memfatwakan haram mengenai tradisi rekeng karena dinilai menyakiti sapi, dan Gubernur Jawa Timur melalui Instruksi Gubernur sudah menyatakan pelarangan tradisi rekeng. Namun tradisi ini masih berlanjut di kalangan pelaku karapan sapi.

2.2  TOKOH DALAM PAGELARAN
~        2 ekor sapi
~        Satu orang pawang
~        Wasit

2.3  TATA CARA PAGELARAN
Pelaksanaan Karapan Sapi dibagi dalam empat babak, yaitu : babak pertama, seluruh sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Pada babak ini semua sapi yang menang maupun yang kalah dapat bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya.
Babak kedua atau babak pemilihan kembali, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali, demikian sama halnya dengan sapi-sapi di kelompok kalah, dan pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang memempati kemenangan urutan teratas di masing-masing kelompok.
babak Ketiga atau semifinal, pada babak ini masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan untuk menentukan juara I, II, dan III dari kelompok kalah.

BAB III
3.1 KESIMPULAN
Jadi saya mendapat pelajaran baru dari teks ini, budaya Indonesia harus dibudayakan agar tidak punah karena budaya baru dari negara lain

3.2  SARAN
Sebaiknya saat melatih sapi tidak menggunakan tindak kekerasan agar sapi tidak merasa kesakitan.

DAFTAR PUSTAKA



Buku, internet dan karangan sendiri
Interaksi Manusia dengan Budaya Karapan Sapi di Madura